Sumber : Republika Penerbit

Pada bulan September 2022 lalu, Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret digegerkan dengan adanya kasus pelanggaran Hak Cipta atas penjualan buku Pengantar Ilmu Hukum (PIH). Penjualan buku ini diinisasi oleh panitia Sekolah Angkatan Muda (SAM), Divisi Ekonomi Kreatif (Ekraf), yang dibawahi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa FH UNS.

Peristiwa tersebut bermula ketika salah satu mahasiswa baru angkatan 2022 sedang mengikuti perkuliahan yang diampu oleh Subekti pada saat itu. Ia menyadari adanya kejanggalan ketika melihat buku yang dibawa oleh mahasiswa tersebut ternyata buku yang ditulis olehnya bersama dengan dosen lain selaku tim pengajar PIH, tetapi dengan sampul yang berbeda. “Saya kan dalam mengajar membebaskan referensi mahasiswa, tapi pas saya lihat buku itu, saya agak asing, terlebih kan saya dosen PIH sudah lama jadi saya paham buku-buku yang umum dipakai,” ungkap Subekti dalam wawancara Rabu (28/9).

Subekti kemudian menginformasikan ini kepada rekan dosen, yakni Harjono dan rekan penulis, Ambar Budhisulityawati. Mereka sepakat perlu ada penindakan lanjut, terlepas hal ini dilakukan secara sengaja ataupun tidak sengaja. Perkara ini selanjutnya dimusyawarahkan dengan Kepala Program Studi (Kaprodi) FH UNS S-1, Muhammad Rustamaji, bersama dosen-dosen terkait. Diketahui bahwa ternyata, pihak BEM telah mengetahui persoalan tersebut dan beritikad untuk menyelesaikan masalah ini melalui penarikan seluruh buku dan memproses pengembalian dana kepada pembeli.

Meski demikian, Rustamaji perlu memperoleh keterangan lebih lanjut dari pihak BEM untuk menjelaskan duduk perkaranya secara jelas, khususnya kepada tim penulis selaku pemilik buku. Mendengar penjelasan dari pihak BEM, ada perbedaan pendapat mengenai tindakan apa yang sepatutnya dilakukan, ada yang berpendapat bahwa kejadian ini dimaklumi saja karena pelaku diketahui merupakan mahasiswa semester awal. Namun, ada yang menginginkan tindakan tegas agar tidak terulang kembali. Rustamaji memutuskan memberi tenggat waktu kepada BEM untuk melakukan penarikan buku serta urusan terkait lainnya.

Selanjutnya, diadakan pertemuan kedua untuk membahas keberlanjutan perkara, antara pihak BEM dengan tim penulis, Kaprodi, serta Wakil Dekan Riset, Akademik, dan Kemahasiswaan. Dalam pertemuan ini, BEM beritikad untuk segera menyelesaikan permasalahan dan meyakinkan tim penulis bahwa kejadian ini murni hasil ketidaksengajaan dikarenakan ketidaktahuan dari panitia Divisi Ekraf SAM BEM FH UNS sehingga tidak ada kesepakatan terlebih dahulu dengan tim penulis untuk menjual buku tersebut. Varian Ikhsan Muhammad, selaku Presiden BEM FH UNS 2022, menyampaikan, “Sebetulnya untuk penjualan buku PIH tersebut diperbolehkan  jika sebelumnya sudah ada koordinasi dengan dosen penulis terkait,” ujar Varian dalam wawancara Jumat (7/10) lalu.

Muhammad Jamin selaku koordinator tim penulis buku PIH untuk memberikan arahan lebih lanjut mengenai bagaimana baiknya permasalahan ini diselesaikan. Arahan yang diberikan Jamin, yakni BEM harus membuat surat permohonan maaf kepada 6 dosen penulis buku tersebut yang selanjutnya akan diteruskan kepada Dekan fakultas Hukum UNS, I Gusti Ayu Ketut Rachmi Handayani.

Atas peristiwa pengadaan buku tersebut, beberapa pihak dosen merasa kecewa, mengapa peristiwa Pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) bisa terjadi di tempat seharusnya dicetak mereka-mereka yang mencegah pelanggaran HAKI di luar sana. Subekti selaku salah satu penulis buku PIH menyampaikan, jika ingin membantu pembelajaran mahasiswa baru harus lebih hati-hati lagi, jangan sampai niat kita ingin membantu tetapi membantu dengan tindakan yang melanggar hukum.

Ungkapan kekecewaan turut disampaikan Rustamaji, dalam wawancara jumat (7/10) lalu. Ia mengatakan, “Sebetulnya hal ini agak keterlaluan, apalagi dilakukan oleh anak hukum semester berapapun, namun karena memang yang melakukan anak baru ya gapapa, anak muda juga terkadang perlu belajar dari kesalahan. Kalau istilahnya dalam pidana kan ada Culpa Lata, atau ketidaksengajaan karena kurangnya ilmu.

Varian mengungkapkan harapan yang bisa dipetik dalam kejadian ini, “Dalam melakukan sesuatu utamakan selalu bertanya, sebab esensinya dalam hukum semua hal itu diperbolehkan kecuali yang dilarang, sehingga aktif bertanya dan yang terpenting selalu berkomunikasi adalah kunci dari pembelajaran yang baik, serta diharapkan untuk teman-teman mahasiswa lainnya, agar peristiwa ini bisa dijadikan pembelajaran”, tutupnya.

Sejak berita ini diterbitkan proses penarikan buku masih berlangsung dan sudah terpaut jarak lama sejak kasus pengadaan buku sampai di telinga mahasiswa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *