Foto oleh : Khafidz Abdulah

Efek kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang dilakukan oleh pemerintah secara mendadak memberikan gejolak dalam masyarakat. Hal ini terlihat dengan adanya pergerakan berbagai elemen masyarakat, seperti yang sudah dilakukan sebelumya di Malang dan Makassar. Aksi di Solo Raya ini diinisiasi oleh Aliansi Solidaritas Perlawanan Rakyat Surakarta pada hari Kamis 8 September 2022 bertempat di depan Gedung DPRD Kota Surakarta.

Demonstrasi ini membawa empat tuntutan, yakni menolak kenaikan harga BBM bersubsidi, meminta pemerintah menyediakan dan mengendalikan harga bahan kebutuhan pokok, menunda proyek strategis nasional, dan menuntut pemerintah merevisi pasal-pasal karet dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) KUHP. 

Bicara mengenai persiapan demo, Dita Meytasari selaku Menteri Luar Negeri BEM FH UNS yang turut serta dalam demonstrasi tersebut mengatakan jika pihaknya bersama aliansi telah memberikan surat pemberitahuan 3×24 jam kepada aparat jika akan diadakanm demontrasi di depan Gedung DPRD Kota Surakarta. Akan tetapi, hal tersebut belum ada respons dari pihak aparat dan telah melakukan konsolidasi untuk menyamakan satu pemikiran dan juga telah melakukan briefing di lapangan.

Dita juga menambahkan dalam aksi tersebut berbagai persiapan telah dilakukan salah satunya dengan melakukan survei ke lokasi, survei tempat evakuasi mahasiswa, serta menyiagakan tim medis. Peserta aksi ini akan tergabung dalam 17 almamater di seluruh Kota Surakarta dengan target perwakilan dari DPRD keluar untuk menemui dan berbicara dengan teman-teman dari Aliansi Solidaritas Perlawanan Rakyat Surakarta.

Jalannya demonstrasi diawali dengan keberangkatan masa menuju titik kumpul bersama di dalam Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta Kampus IV Lantai 5. Di tempat tersebut para mahasiswa dari berbagai universitas di Solo Raya yang telah berkumpul akan bersama-sama berjalan ke Gedung DPRD Kota Surakarta dengan membawa spanduk dan propaganda yang telah mereka siapkan.

Demonstrasi diwarnai dengan berbagai orasi untuk menyuarakan berbagai tuntutan kepada anggota dewan. Demonstran menuntut untuk bertemu dengan salah satu perwakilan DPRD Kota Surakarta guna mendapatkan respon dari tuntutan yang telah disuarakan tersebut. Aksi yang dilakukan oleh aliansi mahasiswa tersebut, akhirnya kemudian membuahkan hasil dengan keluarnya Ketua DPRD Surakarta, yakni Budi Prasetyo dan menandatangani surat pernyataan terkait komitmen pemerintah agar menyampaikan serta merealisasikan tuntutan yang dibawa. Budi Prasetyo menyampaikan aspirasi para mahasiswa yang hadir dalam aksi jika akan secepatnya dilanjutkan ke Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dan Presiden RI agar bisa ditindaklanjuti.

Esensi dengan adanya aksi menolak kenaikan harga BBM menurut Ditia dari Fakultas Teknik Angkatan 2021 mengenai tanggapan dari aksi demonstrasi, “Yang terpenting dari demonstrasi tersebut adalah bukan menurunkan harga BBM. Akan tetapi, menaikan subsidi karena kita sudah membayar pajak. Kita sebagai mahasiswa mempunyai peran agent of change.” Ditia juga menambahkan, “Indonesia banyaknya pejabat dan rakyatnya gugur.”

Daniel Riska Simanjuntak dari Fakultas Hukum UNS juga membeberkan tanggapan terhadap demonstrasi penolakan terhadap kenaikan harga BBM, “BBM naik akan menyusahkan rakyat kecil pasti bukan hanya BBM saja yang naik pasti akan berdampak pada bahan pokok.” Mahasiswa yang baru pertama kali ini mengikuti demo mengatakan, “Sangat excited menyuarakan suara rakyat dikarenakan di Senayan pun tidak didengarkan.” Ia juga menyampaikan harapannya, “Semoga harga BBM diturunkan ya, walaupun tidak seketika tetapi perlahan saja, sehingga tidak membuat bahan-bahan pokok lainnya naik.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *