Foto oleh: Guireva Gahara Nugrahasti

Sekolah lama, tidak ada yang akan menolak tawaran untuk mengunjungi tempat mengukir kenangan selama bertahun-tahun pada masa remaja. Seburuk apapun kenangan yang ada, pasti akan tiba suatu hari di mana menatap bangunannya akan memunculkan memori ke permukaan. Kemudian, kita tiba-tiba terdiam linglung setelah menyadari bahwa masanya sudah lewat.

Pagi ini, jalanan kampung hingga jalan raya telah tertapaki dengan pantofel hitam bersuara nyaring. Akhirnya aku bisa mengulang lagi perjalanan menuju ke sekolah lamaku, walaupun sepatu hitam-putih bertaliku sudah tergantikan sepatu lain. Aku memilih melewati rute yang biasa aku lalui setiap hari selama tiga tahun yang lalu. Tidak lagi dengan seragam putih abu-abu dan tas punggung berisi beban buku pelajaran, kali ini aku hanya menenteng sling bag berwarna biru yang senada dengan almamater kampusku.

Dua tahun sejak semuanya berhenti tiba-tiba, meninggalkan paksa masa remaja dan SMA. Akhirnya hari ini ada masanya lagi mengunjungi bangunan tua yang terus berbenah itu. Aku tersenyum menatap notifikasi grup Whatsapp di ponsel, teman-temanku menanyakan dimana titik kumpul hari ini atau sekadar bertanya sudah berangkat atau belum. Beberapa yang tidak bisa bergabung, menitip salam dengan emotikon air mata.

Jalanan kota sudah berubah dua tahun belakangan. Tidak lagi aspal panas melainkan paving block merah-kuning yang membuat orang-orang betah kalau harus berjalan kaki di sana. Tidak ada lagi orang yang menyeberang di zebra cross, karena sudah ada terowongan untuk pejalan kaki atau kendaraan yang menghubungkan pertigaan area rumahku ke bangunan sekolah.

Aku melambaikan tangan ketika melihat segerombolan temanku berdiri di gerbang, kemudian mempercepat langkahku menuju mereka. Kami bersalaman dan berpelukan erat selama lebih dari sepuluh detik pada masing-masing teman yang ditemui. Tertawa saat saling menanyai kabar dan kepusingan yang dialami di masa kuliah ini. Saling menggoda ketika si nakal tukang bolos sekarang bisa masuk ke universitas nomor satu di Indonesia dan menunjukkan keprihatinan pada mereka yang terpaksa tidak bisa melanjutkan kuliah karena alasan pribadi yang mendesak.

Kemudian kami berjalan bergerombol berlagak seperti orang keren saat adik-adik kelas menatap kami dengan tatapan kagum. Namun, kami tetap menunduk sopan bahkan merendahkan sikap ketika bertemu guru-guru dan karyawan SMA yang sering berinteraksi setiap hari selama tiga tahun. Tak hanya itu, beberapa di antara kita bahkan sudah ada yang berani bertukar ilmu dengan guru.

Ruang aula adalah tempat persinggahan pertama kami. Tempatnya masih eksklusif seperti dulu, dengan satu panggung utama dan kursi-meja yang tersusun rapi. Ruangan yang dulu terkesan tenang, kini sangat riuh dalam acara jumpa alumni. Semua pembicaraan tumpah ruah bahkan termasuk gosip masa lalu saat di sekolah. Rasanya seperti kembali, kami yang sekarang berkepala dua merasa kembali ke usia 17 tahun. Masa remaja adalah di mana beban hidup hanyalah soal pelajaran, mempertahankan nilai, memilih universitas mana, menggores mimpi ke jenjang karir, dan ditambah sedikit bumbu cinta monyet.

“Nanti kelompok dari universitas kalian masuk ke XII IPS 2 ya,” suara lembut wali kelas 12 kami dulu mengarahkan rombongan beralmamater telur asin untuk masuk ke kelasku. Iya, aku dulu penghuni XII IPS 2.

Aku sengaja berjalan paling akhir karena ingin memperlambat langkahku untuk mengamati sekitar. Di bagian luar sekolah in tidak banyak berubah, tapi di bagian dalam seperti kelas-kelasnya glow up semua. Termasuk kelas lamaku, XII IPS 2.

Ruangan dengan udara yang sejuk menyapa kami. Rasanya sangat familiar hanya dengan menatap lemari kaca di bagian depan dekat pintu masuk tempat di mana dulu para siswa mengumpulkan ponsel. Aku terdiam, sampai lenganku disenggol temanku untuk memperkenalkan diri. Mungkin terdengar berlebihan, tapi senyumku secerah matahari ketika menyebutkan diriku berasal dari universitas mana, program studi apa, dan alumni mana. Adik-adik kelas bertepuk tangan bahkan bersorak ketika aku menyebut dulu kelas ini adalah kelasku. Sementara tiga temanku bercuap-cuap, aku yang hari ini bertugas sebagai dokumentasi mengambil gambar dari belakang agar siswa-siswi SMA dan teman-temanku terlihat.

“Eh, Re.” Aku menengok, sebenarnya karena kepalaku yang diarahkan temanku untuk menghadap ke arah papan tulis. Awalnya aku bingung, kenapa dia memaksaku untuk melihat ke papan tulis. Aku kaget ketika menemukan namaku masih terpampang di jadwal piket hari Selasa urutan dua dari bawah. Bahkan, daftar perangkat kelas dan daftar siswa yang absen masih mencantumkan nama-nama alumni XII IPS 2 angkatan 2020, yang berarti itu adalah kelasku.

Sudah dua tahun berlalu ternyata sejak kita benar-benar dipisahkan oleh masa depan dan tanpa ada tegur sapa. Terakhir, aku bertemu teman sekelasku secara lengkap adalah 19 Mei 2020, dua tahun lalu saat agenda ambil ijazah dan buku tahunan diadakan. Pada awalnya, kukira aku tidak akan merindukan masa remaja ini dan bisa melepas semuanya saat aku melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.

Namun, kata sahabatku, aku bukannya merindukan SMA. Tapi hanya mengingat kenangan familiar di kelas yang dulu kita sebut rumah ini pada masa remaja. Bukan rindu menggebu-gebu hingga menjadi manusia bar-bar dan ingin mencari tahu, tapi hanya rindu sesaat bersamaan dengan diriku menatap papan tulis dengan tulisan nama dan teman-teman satu kelas.

Ternyata, kelas-kelas belakang terkhusus kelas sebelas mengalami renovasi mulai dari interior kelasnya sampai perabotan dalamnya. Tapi, aku tidak berkesempatan kesana karena tugas kami hanya berkeliling ke kelas XII, bukan school tour memasuki tiap ruangan yang ada di sekolah lamaku ini.

Mengingat aku pernah ada di sana dan mendapatkan kenangan masa remaja dengan baik, rasanya aku tidak ingin pergi dari tempat itu. Tapi entah kenapa, semakin aku memikirkan kenangan yang sudah terlanjur terjadi di tempat ini, rasanya makin sesak. Apalagi ketika aku melongok ke lapangan hijau bawah dari balkon kelas lantai dua, ada kenangan yang tiba-tiba muncul, tentang seseorang yang duduk membatik di lapangan bawah.

***

Waktu istirahat untuk para alumni tiba. Berbeda dengan ruang aula sebagai titik kumpul pertama, kami memilih beristirahat di laboratorium komputer. Bahkan AC di ruang itu beraroma kenangan, mungkin efek pengharum ruangannya. Aku dan sahabatku memilih tempat duduk yang dulu biasa kita duduki. Tempat ini magis, dengan segala kenangannya. Padahal hanya gedung SMA tua yang bahkan orang tuaku dulu juga bersekolah di sini. Tapi memang benar, tidak ada sekolah yang semagis SMA ini.

Tiba-tiba, aku teringat kenangan pahit itu. Dulu, aku mempunyai seorang sahabat. Namun, pada hari Selasa 12 September 2017 sore hari, ia mengucapkan kata-kata menyakitkan dan cacian kurang ajar kepadaku. Saat itulah aku tahu, bahwa kita tidak akan bisa menjadi teman di sisa waktu sekolah kita. Kejadian itu aku membuatku menganggapnya sebagai mantan sahabat dan hal itu memberi batas jarak yang tidak terpecah sampai sekarang.

“Re, rombongan universitas kembaran kita udah pada mau sampai, nih.” Ponsel sahabatku tersodor ke depan wajahku, membaca dengan saksama pesan yang tertulis di sana, mungkin lima menit lagi universitas ‘kembaran’ akan sampai di ruang komputer.

“Angel! Re!” Tidak sampai lima menit, aku mendengar namaku dipanggil oleh temanku yang lain. Ia memakai jas almamater yang hampir mirip dengan almamaterku tapi lebih gelap. Jika terdapat lautan manusia berasal dari dua universitas ini, maka tidak ada yang bisa membedakan keduanya.

“Zach nggak dateng, Re. Ada acara.” Zach adalah mantan sahabatku di masa remaja yang tadi kuceritakan. Informasi yang sangat penting, sebenarnya. Tetapi aku hanya menanggapinya dengan tawa dan lambaian tangan acuh. Terlihat seperti aku sudah tidak peduli dengan apa yang tertinggal di masa SMA.

***

Kelas terakhir yang harus kami kunjungi yaitu kelas XII MIPA 5. Seharusnya sebagai anak kelas IPS, aku tidak ikut karena pasti pembagian program studinya berbeda. Hanya saja, karena ini kunjungan terakhir dan rombongan dari universitasku paling banyak kedua setelah universitas kembaran, akhirnya kami menggeruduk kelas itu. Bahkan, jumlah kami memenuhi kelas dan hampir sama seperti penghuni kelas. Kata adik kelas sih tidak apa-apa, mereka senang kelas mereka ramai.

Juru bicaranya tetap dari anak IPA. Mantan anak IPS hanya menjelaskan soal lintas jurusan dan cara tes untuk yang memilih lintas jurusan. Aku masih menjadi juru dokumentasi seperti dua sesi sebelumnya, tidak ada kenangan yang muncul karena aku sama sekali alpa dengan keberadaan kelas IPA saat aku SMA.

Kami keluar dari kelas itu bersamaan dengan bel pulang sekolah berbunyi. Kemudian berkumpul di lapangan hijau bawah untuk bersua dengan teman-teman yang sekarang beda universitas karena tadi kami hanya berkumpul berdasar universitas. Karena teman dekatku berasal dari universitas kembaran, aku akhirnya berkumpul dengan mereka, membahas tentang apa yang tertinggal dan apa yang terkini.

“Re, nggak mau ikut ke acara reuni akbar di luar sekolah?”

“Hmmm,” gumaman raguku terdengar oleh mereka dan tampaknya mata mereka berbinar menunggu jawabanku selanjutnya. “Iya, deh. List namaku, ya.”

Mereka memekik senang, kemudian berjanji menuliskan namaku di catatan ponsel mereka. Aku hanya mengiyakan saja dan mencoba mengganti topik pembicaraan, karena jujur, topik tentang reuni akbar sama sekali tidak kuinginkan untuk kembali merasuki kehidupanku.

Mungkin saja aku merindukan SMA dan masa remaja, tapi bukan berarti aku menginginkan masa itu lagi. Aku mungkin memikirkannya, tapi tidak untuk bertemu dan mencari rasa yang tertinggal. Karena aku yakin, sekali aku keluar dari tempat ini, maka kenangan tentang relasi zaman SMA juga akan tertinggal begitu saja di dalam sekolah ini. Hanya sepintas, yang tidak mampu menggerus batas yang tak sengaja kami buat sejak 13 Maret 2020, sehingga aku terbiasa menghadapi “tembok” dan sekarang jarak masihlah tembok itu.

Sekolah menyepi, tidak ada lagi murid-murid SMA yang tersisa, hanya guru-guru dan golongan kami yang tentu saja tidak punya kepentingan untuk terus berdiam di situ. Kami mengambil beberapa untuk menutup hari ini, berharap adanya lagi perjumpaan hari esok yang semeriah hari ini.

Ketika kami sadar kami tidak punya seremoni perpisahan seperti angkatan-angkatan sebelumnya dan angkatan sesudahnya, saat itu pula atmosfernya berubah haru. Seperti tanpa berpamitan, tiba-tiba datang lagi membawa sesuatu yang berbeda. Acara hari ini mungkin bisa mengganti seremoni perpisahan itu. Dengan situasi agak formal, melambaikan tangan dan mengucapkan sampai jumpa lagi, walau tanpa balutan atribut ala anak SMA dan sudah terlanjur tercebur di universitas.

Aku melangkah pulang, menuju rumahku yang hanya kurang dari satu kilometer dengan sekolahku ini. Jalanan kota panas, bahkan tambah panas karena pohon-pohon tinggi sedah tidak ada berganti bangunan jalan layang. Jalanan kota sudah berubah, aku tidak bisa lagi menyeberang di depan sekolah persis, harus berjalan agak ke timur untuk menyeberang, tapi situasinya tetap sama. Ketika aku menatap rute jalan arah rumahku yang ramai oleh murid, aku teringat hari terakhir perjumpaan kita sebelum hoaks libur dua minggu. Aku masih tetap mengingatnya.

 

Penulis: Guireva Gahara Nugrahasti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *