Oleh :Alfadila Yoga Brata

Sumber gambar : unsplash

TENG, TENG, TENG… Jam dinding berdetak pukul 00.01 WIB

Usia 23, senang telah bertambah usia, rasa syukur bergejolak di dada, rasa membara di sukma akibat rasa senang telah dikarunia umur yang bertambah.  Bagi banyak orang, usia kepala dua menjadi usia yang cukup matang bagi menjalani aktfitas sebagai seorang laki dewasa yang sejati. Dunia terasa berbeda, step-step menuju kehidupan yang nyata, kehidupan yang setiap orang takuti. Atmosfer udara terasa mencekik. Senang yang membara cepat sirna dalam diri. Menatapa ruangan kosong yang sungguh gelap dan kosong. Di kamar yang kosong , terceluk dalam diriku “Udah bertambah usia ya, apa yang harus kulakuakan?” Seonggok manusia yang sedang berpikir bagaimana menjalni kehidupan ke-23 tahunnya ini. Terceletuk lagi “Apakah umurku yang 23 ini ada perubahan besar apa sama seperti diriku yang dulu , hanya melihat orang kuliah , pacaran dan clubbing sana sini?” Berpikirlah otakku untuk menjawab pertanyaan yang sama ku pikirkan tahun lalu. Apa yang harus kulakukan sekarang adalah hal yang mendasar yang tidak bisa ku jelaskan.

Dalam diam ku, ku coba berkaca seonggok manusia diriku telah melakukan apa aja dari tahun lalu ke sekarang. Otak mungil ini serasa disuruh bekerja keras untuk mendapatkan jawabannya. Setelah beberapa waktu, otak ku ini mulai menjawab “Aku telah kuliah dan menyelesaikannya, aku telah memenuhi kewajibanku sebagai seorang mahasiswa umumnya.” Jiwa diriku menjawa “Kuliah? hanya kuliah? diluar sana banyak yang mencari kegiatan lain bodoh!! kurasa kau sungguh bodoh, dengan hanya kuliah kau bisa bangga ha!?” Diriku tersontak membayangkan betapa santainya aku menjalani kehidupan. Rasa malu menjalar di seluruh tubuhku, bertanya diriku “Orang kok bisa ya aku bisa menjalani kehidupanku yang sesantai ini?” Diam, tak ada jawaban di dalam diriku. Melihat orang lain yang hanya bersenang-senang, mendapatkan uang   dan bersenang-senang lagi terasa apakah dia orang beruntung sedunia, manusia dari dulu di cintai oleh Tuhan. Sehingga, hanya bisa bersenang-senang saja hidupnya. Kenapa aku tidak begitu saja, apa yang salah dengan kehidupan santai diumur 23 tahun ini.

Hal yang hanya bisa kurasakan sekarang adalah betapa berubahnya dunia ini. Detik-detik sebelum umur 23 ini. Hanya berisi kesenangan dan kebebasan. Kenapa sekarang berasa dunia berubah. Apakah umur 23 ini memberikan beban mental kuat pada diriku? Aku sudah seperti anak muda lainnya yang hanya bersenang-senang menjalani kehidupan. Aku bertanya pada diriku “Apakah salah seorang pemuda seperti diriku bersenang-senang?” Suara menjawab pertanyaan ku, “Tidak masalah, tapi apa kau tidak meilhat orang lain sedang bekerja keras untuk kehidupanya di masa depan, celekno matamu wahai pemuda, kau ini dari keluarga menengah tidak bisa memiliki jaminan kedepannya, apakah kau mau merasakan kesusahan lainnya ketika harta keluargamu habis?”

Tersontak diriku menjadi sedih dan malu, diriku yang sesantai ini hanya bisa termenung dan berpikir Tindakan ku yang dulu. Diriku yang hanya berpikir masih muda bisa bersenang-senang pun tertegun. Berbagai pertanyaan, kesedihan dan ketakutan melanda sugmaku. Pertanyaan, seperti, Apakah dunia sekarang bekerja seperti inikah? Apakah sudah berubahkah duniaku? Atau hanya efek umur 23 tahun saja yang merasa tertinggal dari yang lain, yang lebih berbakat daripada diriku yang lebih bisa diandalkan daripada diriku. Tak ada jawaban dari pertanyaan tersebut dan ku hanya terus berpikir apa jawaban yang benar.

Di sisi lain, diriku yang merasa takut akan kehidupan kedepan yang masih tertutup awan hitam membuat sisi lain diriku termenung, melihat diriku yang tidak seperti pemuda lain yang bekerja keras untuk hidupnya, bekerja keras menggapai standar hidup dunia dan mengorbankan dirinya terikat dengan gaya hidup jaman sekarang. Melihat orang lain yang memiliki koneksi terhadap orang lain dan tabungan melimpah atas kerja keras dirinya membuat ku takut tertinggal. Apakah dewasa semengerikan ini? ucap diriku yang ketakutan di bawah selimut. Ketakutan kedewasaan dan bayang-bayang pencapaian seseorang menjadi hal yang menakutkan pada diriku. Diriku sejak dulu tidak memikirkan sedikitpun tentang itu merasa takut dan binggung.

 Sekejap sebuah jawaban menvalidiasi Tindakanku sekarang “Ya kan orang tua nyurushnya kuliah bukan kerja keras, dunia orang berbeda bos dengan kita.” Sontak diriku merasa tenang sedikit mendengarnya. Jawaban yang melegakan diriku sesaat. Balasan jawaban menghantam pikiranku “Iya memang kau disuruh kuliah tapi tak pernah kah di otak kau ini berpikir ke depan, dunia berputar dan berkembang, apa kau tidak lihat pekerjaan sekarang susah, Tes CPNS juga susah kau pikir kaya dulu yang mudah, budak kau kaya gini hanya sampah di masyarakat.” Diriku kembali sedih dan memikirkan benarnya ucapan tadi.

Diriku menjawab “Kan bisa S-2 dulu kan, memang harus cepet-cepet kerja, dirimu aja terlalu khawatir terhadap dunia ini, bisa bisa apa kau pikirkan tidak terjadi seperti itu nantinya, kau hanya terlalu takut akan masa depan, masa depan kita terjamin pastinya.” Jawaban tersebut membuat geram diriku yang lain menjawab dengan nada tinggi “Pakai uang siapa kau S-2, memang keluarga kau masih hidup semua sampe kau selesai S-2 dan kerja, ingat keluarga lu tu ingin lihat kau sukses dan dapat istri, memang dengan S-2 selesai hidup kau? enggak juga kan kau hanya memperlama sekolahku kau biar dapat uang terus dari mamak kau.” Tertegun diriku, apakah secepat itu harus bekerja keras?

Diriku sedih akan jawaban tersebut dan mulai berpikirlah aku tentang umur diriku yang telah dewasa, diriku yang hanya memikirkan senang-senang berbalik harus memikirkan tentang kerja keras. Diriku hanya bisa berifkir apakah sudah telat untuk sukses bersama teman lainnya, diriku yang kokoh akan pendirianku untuk bersenang-senang bagai tembok berlin runtuh di jebol masyarakat dari Jerman. Diriku yang hina ini merasa terpukul akan semua jawabanku bisa terbatah oleh sisi diriku yang lain. Memang benar seonggok manusia ini hanya bisa bersenang-senang belum bisa bekerja dan membanggakan seperti manusia lain. Sedih pasti tapi binggung apa yang harus kulakukan.

Ditengah kebingunan diriku dan berpikir diriku ini tidak ada gunanya, terceletuk suatu perkataan “Bekerja keraslah lebih dari orang lain, hidupmu adalah tanggungjawabmu dan tanggungjawabmu telah usai Ketika kau dewasa dan kehidupanmu sekarang adalah jalan yang harus kamu lalui. Ingat kau sudah dewasa, apa kau lakukan harus bisa buat diri kau nyaman di masa depan. Masa depan sekarang masih hitam tapi kau kerja keras lah buat hitam itu menjadi terang sebenderang lampu lorong kampus mu.”

Aku menangis dan binggung harus menjawab apa, diriku yang hina ini dan masih merasa seperti bocah yang terus merengek disuapin dan ditidurin oleh orang tua. Diriku harus memberikan lebih untuk kehidupanku, di tengah malam yang harusnya senang kenapa diriku berpikir demikian. Berpikir yang aku pikir tiap hari dan tiap malam dan berharap malam di tahun ulang tahunku tidak berpikir demikian tapi ditampar oleh fakta tersebut. Diriku sedih dan memendam ini tidak lama tertidur.

Apa yang kupirkan tadi ya ?????

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *