Oleh: Alya Rosana

Sumber gambar: illustrators.ru

Akhir-akhir ini, Ibu dan Bapak sering kali berpuasa di luar hari-hari yang seharusnya. Hal ini mungkin mereka lakukan untuk menghemat persediaan sembako di rumah kami agar setidaknya cukup sampai akhir bulan. Satu-satunya sumber penghasilan kami, yaitu toko kue milik keluarga tak lagi dapat diandalkan. Penjualan menurun drastis sejak satu tahun lalu karena pandemi dan belum ada kenaikan signifikan hingga detik ini. Terkadang, Ibu harus memasak untuk para tetangga supaya mendapatkan penghasilan tambahan, hasilnya lumayan untuk modal operasional toko keesokan harinya.

Kue lekker holland milik kami memang salah satu yang terbaik yang ada di kota. Sebelum pandemi melanda, pesanan dari pelanggan seringkali membeludak sampai kami harus membatasi pesanan setiap harinya. Pada masa kejayaannya, toko kami sempat mempunyai lebih dari lima belas karyawan, itu pun belum termasuk para supir yang melayani pesan antar.

Sekarang, hanya tersisa tiga orang tukang kue yang telah bekerja dengan keluarga kami selama belasan tahun dan dua orang penjaga toko yang bergantian shift setiap harinya. Terkadang, saat hari-hari libur tertentu, mereka diliburkan dan keluarga kami yang bergantian menjaga toko. “Mau sesepi apapun, ada yang datang ataupun nggak sama sekali, toko harus ada yang jaga,” ujar Bapak tak lelah-lelahnya mengingatkan kami.

Selama dua tahun ini, aku telah diamanahi untuk memegang pembukuan dan administrasi toko. “Terlalu mahal untuk bayar seorang admin, apalagi akuntan. Kau kan kuliah akuntansi, kumanfaatkan saja kau,” canda Bapak. Sebagai orang yang diberi tugas untuk mengurus pembukuan, akulah yang paling paham kondisi keuangan toko. Aku merasa miris saat mencermati laporan keuangan toko kami beberapa bulan terakhir. Untuk dapat bertahan, biaya operasional harus terus ditekan. Bahkan, jika penjualan tidak menunjukkan peningkatan dalam dua bulan ke depan, harus ada satu karyawan lagi yang diberhentikan.

***

“Jika penjualan toko terus begini, bisa-bisa aku tidak jadi kuliah tahun ini,” keluh Tari, adik pertamaku, saat kami sedang menjaga toko untuk menggantikan seorang pegawai yang sedang Salat Jumat. Ia memang ingin sekali meneruskan pendidikannya ke Fakultas Kedokteran (FK). Hal itu sudah menjadi cita-citanya sejak kecil. Seharusnya ia masuk kuliah tahun lalu, tetapi mengingat kondisi keuangan kami yang benar-benar sedang kacau saat itu, ia mengalah. “Setahun ke depan, aku mau persiapkan diriku dulu sebelum jadi anak FK betulan, hehe,” dalihnya ke Ibu dan Bapak waktu itu.

Percayalah, jika ada orang yang menginginkan Tari kuliah melebihi keinginannya sendiri, akulah orangnya. Aku tak habis-habisnya meyakinkan Tari bahwa ia dapat kuliah tahun ini, padahal aku sendiri tak yakin betul jika melihat kondisi keuangan kami yang berada di ujung tanduk ini. Aku harus memutar otak supaya penjualan toko kami dapat meningkat dan adikku bisa kuliah. Kupandangi Tari yang duduk di sampingku dan sedang membolak-balik halaman buku persiapan ujian masuk kuliahnya. Kesempatannya setahun ini benar-benar ia manfaatkan, tak sekali pun kudengar keluhan keluar dari mulutnya. Perasaan bersalah menjalar ke sekujur tubuhku. “Perjuangannya tak akan sia-sia, ia harus kuliah tahun ini,” kataku dalam hati.

***

Sebenarnya, sudah sejak lama aku merencanakan strategi pemasaran dan perluasan pasar untuk toko kue kami. Digital marketing dapat memberikan pengaruh yang signifikan untuk penjualan kue ini. Setidaknya, kami dapat mencoba mendaftarkan toko ke layanan pesan antar daring. Kami juga dapat meminta dipromosikan oleh akun instagram ternama yang sering meliput berbagai kuliner yang ada di kota kami. Dengan begitu, kami dapat memperluas segmen pasar dan penjualan pun akan meningkat.

Namun, tak mudah untuk meyakinkan Bapak yang cenderung kolot mengenai permasalahan seperti ini. Selama ini, Bapak hanya mengambil target pasar dari kalangan terdekat saja. Hal itu semakin menyusahkan kami di masa seperti ini. Bapak juga tak jarang mendapatkan masukan dari para kerabatnya untuk mendaftarkan toko ke pelayanan pesan antar daring, tetapi ia menolak. Katanya, prosesnya rumit dan biaya bagi hasil dengan partner justru dapat membebani pelanggan.

Saat makan malam, aku memberanikan diri mengutarakan rencana kecilku kepada Bapak. “Kalau dijual online, kita juga bisa bikin terobosan-terobosan baru seperti kue yang teksturnya fudgy, Pak. Kue ini bisa lebih tahan lama, setidaknya selama masa ekspedisi. Jadi, target pasar kita bisa dari seluruh Indonesia,” jelasku dengan nada persuasif. Raut wajah Bapak terlihat santai dan tak terlalu tertarik dengan ide yang baru saja kusampaikan. 

“Ya, prosedur seperti itu yang nggak mudah, Nak. Apalagi yang pegang toko kan Bapak. Kalau ada apa-apa semuanya pasti ke Bapak. Rumit, Bapak nggak familier. Belum lagi biaya-biaya yang harus dikeluarkan,” jawabnya.

“Kalau urusan teknis seperti itu, Bapak jangan khawatir. Neni yang bakal urusin dari nol,” tukasku membujuknya.

Tak mudah untuk meyakinkan Bapak. Ia tetap teguh pada pendiriannya. Dengan pemikirannya yang konservatif itu, akan sukar untuk membuat toko maju. Jangankan memajukan, untuk mempertahankan toko saja kami sudah kesulitan bukan main.

Tari mendatangiku seusai makan. Kulihat ia memperhatikanku sepanjang makan malam, ia menyadari ada yang tidak beres.

“Mbak, keuangan toko nggak tertolongkan, ya? Aku nggak bisa kuliah tahun ini?”

He, jangan gitu. Sesuai rencana awal, kamu tetap kuliah kok tahun ini. Masalah toko selama masih ada Mbak, pokoknya beres. Hus, udah sana jangan ikutan mikirin toko. Kerjaan kamu cukup belajar aja. Dua minggu lagi ujian, kan?” aku berusaha menghibur Tari.

“Mbak, sudahlah. Aku bukan anak kecil lagi. Aku tahu kondisi kita nggak memungkinkan untuk aku nerusin kuliah. Nggak apa-apa kok, kalau itu kenyataannya,” timpal Tari. Aku melihat secuil keputusasaan di matanya. Aku telah berjanji kepada diriku berulang-ulang kali bahwa ia harus kuliah. Aku akan melakukan seribu satu cara supaya Tari tetap akan kuliah tahun ini.

“Kenyataannya ya kamu bakal kuliah tahun ini, titik,” ujarku mengakhiri percakapan singkat kami malam itu.

***

Aku yakin Bapak tidak akan pernah setuju dengan caraku ini, tetapi aku harus melakukannya. Demi Tari, demi keluarga kami, demi toko. Lagi pula, aku sudah berusaha sedemikian rupa untuk membujuk Bapak. Aku sempat bersekongkol dengan Ibu untuk meyakinkan Bapak, tetapi ia tetap bersikeras. Tak ada cara lain bagiku. Maafkan Neni, Pak. Neni harus melakukan ini. Dengan yakin, aku lekas berjalan ke arah pintu toko untuk menemui orang-orang di balik akun Instagram kuliner ternama di kota kami. Mereka akan mengambil beberapa gambar dan video produk dari toko kami untuk diunggah ke akun mereka seperti kesepakatan antara kami beberapa hari silam.

Terakhir aku cek surel pribadiku pagi tadi, persetujuan partnership dengan salah satu layanan pesan antar daring juga akan dikonfirmasi dalam 24 jam. Aku sedikit lega mengingat banyak pemilik toko yang mendaftarkan tokonya, tetapi diabaikan. Mungkin karena toko kue kami memang sudah cukup ternama.

Aku sadar betul Bapak dan Ibu yang paling berwenang untuk melakukan semua hal ini, tetapi sedikit banyak aku tetap memiliki kuasa atas pengambilan keputusan untuk kelangsungan toko. Apalagi menyangkut kuliah Tari, ia tidak boleh jadi korban kekolotan Bapak, setidaknya itu yang ada di pikirkanku.

***

Benar saja, belum genap dua hari hari salah satu akun kuliner mengunggah gambar kue kami, pesanan di toko kami kian berjibun. Empat oven raksasa di dapur toko belum istirahat sedari subuh. Para driver layanan pesan antar daring berjajar rapi mengantre menunggu gilirannya dilayani. Bahkan, hingga sore tadi, karyawan kami belum sempat istirahat sama sekali, kecuali mencuri waktu lima sampai sepuluh menit untuk ibadah dan makan dengan tergesa-gesa.

Aku banyak tersenyum hari ini. Aku membantu karyawan toko melayani para pembeli dan driver pesan antar. Secercah harapan bagi Tari untuk melanjutkan kuliahnya pun mulai tumbuh kembali. Kebetulan malam nanti pukul sembilan adalah pengumuman hasil ujian masuk kuliah Tari. Aku sangat optimis bahwa Tari akan diterima, karena jika ada satu hal yang selalu aku irikan dari dirinya, itu adalah kecerdasannya.

Aku berencana menghadiahinya seperangkat stetoskop cantik dengan mengambil prive dari uang kas hasil penjualan hari ini. Tentunya aku sudah izin Ibu untuk hal ini. Sedangkan Bapak, sudah dua hari ia tidak berbicara kepadaku, tetapi tak terlalu kupikirkan. Setelah melihat kenaikan penjualan seminggu ini, pasti Bapak akan berterima kasih kepadaku. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri.

Toko kami tutup pukul setengah sepuluh malam, tetapi para karyawan sudah Ibu pulangkan sehabis isya tadi. Lagi pula, kondisi toko sudah tak seramai tadi siang. “Kasihan, mereka sudah kepayahan seharian penuh,” terangnya. Aku akhirnya menjaga toko seorang diri. Bapak dan Ibu ada urusan mendadak di luar, sedangkan Tari, ia pasti sedang gusar bukan kepalang menunggu pengumuman hasil ujiannya. Kutengok jam dinding yang ada di atas pintu utama toko, beberapa menit menuju pukul sembilan. Toko sudah mulai sepi. Akhirnya aku dapat duduk santai di kursi yang berada di belakang mesin kasir tua itu.

Tak lama, seorang laki-laki paruh baya datang. Aku segera bebenah diri bersiap melayaninya.

“Saya mau yang original dua kotak,” ujarnya cepat seraya mengamati seluruh penjuru ruangan. Belum sempat kujawab, ia segera menimpali lagi ucapannya, “Kalau bisa yang baru dibikin hari ini ya, Mbak.”

“Semua kuenya dibuat hari ini, Pak. Cuma ada yang paling baru, dibuat sekitar jam enam sore tadi.”

“Ya, saya mau yang paling baru.”

Aku pun mempersilakannya untuk duduk di bangku bekas antrean para pembeli tadi sembari menunggu. Aku bergegas ke dapur dan menyiapkan keempat kue lekker holland original pesanan lelaki itu.

Tak sampai sepuluh menit, pesanannya sudah siap. Seperti yang sering Bapak katakan, kami tak boleh membiarkan pelanggan menunggu lama. Dengan langkah cepat, aku kembali ke ruang depan toko. Tak kudapati laki-laki tadi. “Oh, mungkin si bapak sedang menunggu di luar,” ucapku lirih. Saat hendak membuat nota pembelian, aku tersontak ketika melihat laci kasir yang terbuka. Isinya ludes tak bersisa. Padahal, disitulah semua hasil penjualan toko hari itu.

Pandanganku mulai kabur, kakiku terasa seperti melayang tak lagi kuasa menopang tubuhku. Plastik berisi dua kotak kue lekker holland original itu terjatuh. Aku tersungkur lemas. Samar-samar, aku melihat Tari berlarian dari arah pintu samping yang langsung tersambung dengan rumah kami. “Kak, Tari lolos!” teriaknya riang penuh haru. Aku yang masih terperanjat hanya mampu memandanginya miris tanpa sepatah kata pun mampu terucap dari bibirku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *