Oleh: Aji Bayu Prasetya

Sumber gambar: https://blog.xuite.net

Di salah satu kota besar ini, tinggallah Dika bersama kedua orang tuanya. Ayahnya bernama Abadi sedangkan ibunya ialah Yuni. Pak Abadi merupakan seorang pengusaha mebel, Ibu Yuni adalah ibu rumah tangga, dan Dika sendiri masih duduk di bangku sekolah kelas 3 SMA di salah satu sekolah swasta di kota tersebut.

Suatu pagi, kala matahari masih belum menampakkan diri, hanya semburat merah yang mulai muncul di ufuk timur. Embun dan kabut masih tampak jelas di sekeliling. Suara kendaraan bermotor di jalan pun masih belum ramai. Pemandangan yang nampak dari rumah Pak Abadi pagi itu, disertai orang-orang yang berlalu-lalang. Ada yang bersepeda, mengendarai sepeda motor, bahkan ada pula yang naik mobil. Dari mulai orang dewasa yang berangkat bekerja hingga anak-anak yang bergegas ke sekolah.

Pagi itu, Ibu Yuni pergi ke pasar untuk membeli bahan makanan. Pak Abadi masih berada di rumah dan tidak berangkat bekerja karena sedang sakit kepala. Begitu pula Dika, ia masih asyik mengerjakan sesuatu di kamarnya.

Seketika itu, Pak Abadi memanggil Dika dengan nada lirih. “Mas, tolong ambilkan obat sakit kepala di lemari obat itu, Mas,” pinta Pak Abadi ke Dika.

“Ya Pak, sebentar. Ini masih main game online, game-nya tidak bisa di-pause ini,” sahut Dika.

Satu jam kemudian, Dika baru mengambilkan obat untuk Pak Abadi, “Ini Pak, obat sama air putihnya.”

“Terima kasih ya Mas. Ini kok kamu nggak berangkat sekolah Mas?” tanya Pak Abadi kepada Dika.

Nggak Pak, hari ini sekolah libur,” sahut Dika.

“Bapak tadi, kok, lihat anak-anak pada berangkat sekolah ya, Mas?” tanya Pak Abadi.

Nggak tau, Pak. Ada kegiatan ekstrakurikuler mungkin,” jawab Dika.

Padahal, hari itu sekolah tidak libur. Dika hanya malas saja untuk berangkat hingga berani berbohong ke ayahnya sendiri. Namun, Pak Abadi langsung percaya saja dengan Dika, karena merasa bahwa anak kesayangannya itu tidak akan membohonginya. Setelah minum obat, Pak Abadi kembali tidur dan berharap sakit kepalanya akan segera reda.

Dika bergegas ke kamarnya dan kembali bermain game online. Ia tidak memikirkan sekolah dan jarang belajar. Padahal, sebentar lagi ia akan melaksanakan Ujian Nasional. Ia beranggapan bahwa ujian tersebut pastilah mudah dan ia pasti bisa melewatinya tanpa belajar.

***

Setelah beberapa saat, Ibu Yuni pun pulang dari pasar membawa banyak belanjaan. Tak lupa ia menaruh roti kesukaan keluarganya yang telah ia beli sebanyak tiga biji di meja makan. Roti ini dibelinya untuk Dika, suami, dan dirinya sendiri.

Setelah beberapa jam bermain game online, Dika memutuskan keluar kamar mencari cemilan untuk mengisi perutnya. Ia menemukan tiga buah roti di meja makan lalu membawanya ke kamar. Karena kelaparan, ia menghabiskan semua roti itu.

Melihat rotinya yang tak bersisa di meja makan, Ibu Yuni kebingungan. Ia membangunkan Pak Abadi dan bertanya, “Bapak lihat roti yang tadi di atas meja makan situ nggak?”

Nggak Bu, emangnya kenapa?” tanya Pak Abadi.

“Ibu tadi beli roti tiga di pasar, Pak. Terus sampai rumah, rotinya Ibu taruh di atas meja makan. Tapi sekarang kok rotinya nggak ada ya, Pak?” tanya Ibu Yuni.

“Bapak tidak makan sama sekali roti itu, Bu. Coba tanya Mas Dika,” pinta Pak Abadi.

“Bukannya Mas Dika sekolah, Pak?” tanya Ibu Yuni.

“Tadi Bapak tanya ke Mas Dika. Katanya hari ini libur, Bu,” sahut Pak Abadi.

“Ya Pak, coba Ibu tanya ke Mas Dika dulu,” kata Ibu Yuni sambil berlalu ke kamar anaknya.

Melihat Dika yang memang masih di kamar, Ibu Yuni bertanya, “Mas, tadi kamu makan roti yang Ibu taruh di meja makan?”

“Iya Bu, tadi Dika makan roti yang di atas meja,” jawab Dika.

“Mas Dika makan semuanya?” tanya Ibu Yuni.

“Iya Bu, tadi Dika makan semua. Dika lapar banget soalnya, emangnya kenapa, Bu?” tanya Dika

“Tadi kan rotinya ada tiga, Mas. Niatnya untuk Ibu satu, Bapak satu, dan Mas Dika satu,” jawab Ibu Yuni

“Aduh, Dika minta maaf, Bu. Dika pikir tidak ada yang makan,” sahut Dika.

“Tidak apa-apa, Mas Dika. Ibu tuh ikhlas misal Mas Dika makan semua, yang penting Mas Dika senang dan jadi anak yang pintar. Ya sudah Mas, sana buruan belajar. Ujiannya bentar lagi, kan?” ucap Ibu Yuni dengan penuh kasih sayang.

“Iya, Bu. Ini Dika mau belajar,” jawab Dika.

Setelah ibunya keluar dari kamar, Dika mengambil buku materi ujian. Namun, ia merasa sangat malas untuk belajar. Bahkan, ia hanya berbaring di kasur dan menutupi wajahnya dengan buku materi tersebut. Ia malah tertidur sampai mendapatkan suatu mimpi.

Dika bermimpi sedang mengikuti ujian di sekolahnya. Kertas soal dan lembar jawab pun sudah dibagikan. Ketika membaca soal, ia merasa kepalanya berat dan panas karena tidak memahami soal ujian tersebut. Ia pun hanya dapat mengerjakan lima belas soal dari jumlah total lima puluh soal.

Saat nilai ujian diumumkan, Dika mendapat nilai paling rendah di sekolah. Ia merasa bersedih dan merasa hidupnya sia-sia. Selama ini, ia suka meremehkan bahwa ujian itu mudah. Ia merasa bisa mengerjakan karena merasa dirinya cerdas. Ia pun merasa menyesal kenapa tidak belajar dengan baik dan malah bermain game online.

Tiba-tiba, Dika terbangun dan menyadari bahwa itu hanyalah mimpi. Namun, ia mendapati matanya telah basah karena menangis. Karena kejadian ini, ia pun merasa harus meminta maaf kepada ayah dan ibunya yang sudah ia bohongi. Dika juga bertekad akan belajar dengan giat agar tidak menyesal di kemudian hari seperti yang terjadi dalam mimpinya itu.

***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *