Sumber gambar: jawapos.com

Yogyakarta, Desember 1950

Tangan perempuan dengan surai legam bermata sayu itu menyapu lembut nisan penanda pusara seorang prajurit. Kebaya putih yang membungkus tubuh ringkihnya ternodai corak coklat lusuh dari tanah kering akibat kemarau panjang yang melanda Yogyakarta di penghujung tahun. Tak kunjung hujan, tak kunjung tenang pula hati puan bernama Laksmi Nareswari. Ia kini menatap nanar sebuah nisan bertuliskan Ganang Jatmiko, kekasih hati yang telah mati ditembak oleh Belanda di langit Lapangan Maguwo tiga tahun lalu.

Sang puan kini menyandarkan keningnya ke nisan pusara kekasihnya. Ia biarkan rambutnya terurai bersama air mata yang berjatuhan dari pipi. Tak terasa ia telah bersimpuh di tanah pekuburan hingga langit mulai menggelap menutupi tirai sore.

“Laksmiii! Oalah Nduk, disini to rupanya kamu,” suara Mbok Darmi yang parau memecah keheningan. Laksmi terhenyak sesaat melihat Simboknya tergopoh-gopoh menghampiri dengan raut penuh gelisah.

“Ayo pulang, Nduk. Bapak ngamuk mencarimu sedari siang. Malu menghadapi rombongan Pak Broto yang marah, tak terima calon istri yang akan dilamar malah ngilang.”

Laksmi mendengus kesal. Walau raganya terduduk lemas, ia tak dapat menahan amarah yang memuncak akan rencana perjodohan sepihak oleh sang ayah dengan seorang mandor kuli korup di perkebunan teh milik londo yang telah beristri tiga.

“Daripada menikahi Broto si bangkot itu lebih baik Laksmi mati membusuk di sini!”

Oalah Gusti, ini sudah magrib. Lebih baik pulang biar Mbok yang nanganin Bapak, daripada di sini kita ketemu setan,” ujar Mbok Darmi merinding memegangi pundak Laksmi.

“Sudahlah Mbok pulang saja. Tak sudi Laksmi dijual Bapak yang terlilit hutang judi!”

Perempuan itu menangis histeris di pelukan Simboknya. Jantungnya bagai dihantam godam, hancur berkeping-keping dengan sikap sang ayah yang begitu zalim padanya. Hingga ia rasakan pandangan matanya kabur lalu tubuhnya yang lunglai melemas. Laksmi kemudian pingsan di pelukan Mbok Darmi yang panik sekaligus menciut takut, menyadari mereka berdua masih berada di tengah tanah pekuburan dengan gundukan pusara di kanan-kirinya.

***

“Laksmi ­ndak mau menikah, Pak! Laksmi ingin sekolah tinggi seperti cita-cita Ibu dulu. Menjadi perempuan cerdas berpendidikan tinggi yang buat bangga Bapak, bukan atas dalih perjodohan yang direncanakan untuk sekedar menebus hutang-hutang judi!”

Puan itu beringas menghadapi ayahnya yang murka. Sejak kabur dari perjodohan tempo hari, ayahnya tak segan memukul anak semata wayangnya itu di setiap perdebatan mereka.

“Sadar akan kodratmu, Laksmi! Kamu ini hanya perempuan yang nanti bakal jadi istri. Kalian cukup melayani suami di rumah, ndak perlu macam-macam sampai sekolah tinggi segala. Sudah bagus aku carikan suami si Broto yang kaya raya biar nyaman hidupmu, malah kamu permalukan Bapakmu di depannya!” sungut ayahnya sambil menggebrak meja makan.

“Kodrat? Kodrat perempuan itu hanya tiga Pak! Menstruasi, hamil, menyusui. Selebihnya, laki-laki dan perempuan bisa melakukannya. Jika Bapak tidak mau membiayai Laksmi sekolah, maka jangan paksa Laksmi untuk menikah!” sahut Laksmi tak mau kalah.

“Laksmi ingin melanjutkan sekolah hukum di Batavia. Tak ingin menyia-nyiakan perjuangan Kartini yang memperjuangkan emansipasi kaum kami. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan menegakkan keadilan di negeri kita yang mulai yang mulai berbenah setelah merdeka. Lagi pula, perempuan juga berhak mengenyam pendidikan tinggi sama halnya dengan kaum lelaki.”

“Dasar anak durhaka! Ndak usah sok tinggi ucapanmu. Justru begini akibatnya sekolah. Lancang melawan sampai menggurui bapakmu tentang kodrat perempuan!”

“Oh, jadi Bapak maunya perempuan ndak usah sekolah ya biar bisa dibodohi? Pantas saja Bapak dulu memaksa menikahi Ibu sampai harus menanggalkan mimpinya sekolah di Batavia!”

Sebuah tamparan keras melayang ke pipi sang puan. Tak tahan berdebat dengan ayahnya, segera ia langkahkan kaki untuk pergi dari rumah. Tidak menghiraukan amukan ayahnya dan Mbok Darmi yang gagal mencegahnya pergi untuk ke sekian kalinya.

Setelah cukup jauh ia langkahkan kakinya, kini Laksmi terduduk lemas berteduh di sebuah gubuk di tepi persawahan. Tampak ia menggenggam erat sepucuk surat tertanda dari mendiang kekasih. Surat yang telah sekian lama disimpannya itu baru berani ia baca. Matanya basah menelusuri deretan kata yang ditulis sang kekasih dengan segenap rindu yang membuncah. Hingga ia sampai di penghujung kalimat, matanya menatap nyalang dengan pikiran yang terus melayang. Bergelut hati juga akalnya mencerna maksud sang pujaan hati.

…Jika aku tak kembali dengan selamat segera temui kawan baikku, Meneer Willem van Lansberge. Seorang sinyo sekaligus advokat muda yang tengah mengabdikan ilmunya di negeri kita. Seharusnya ia sudah tiba di desa membantu Pak Kades (kepala desa) ketika aku berangkat mengudara. Jika aku tak bisa mewujudkan mimpimu untuk bersekolah tinggi, maka ia lah yang bisa membantumu. Sungguh ia adalah orang yang aku percaya untuk bisa menjagamu…”

***

Di sinilah Laksmi berada. Berdiri mematung di depan rumah Pak Kades dengan pikirannya yang kalut. Di rumah inilah sinyo itu tinggal untuk membagi pikiran dan memberi bantuan hukum bagi warga sekitar. Ia memang tak begitu mengenalnya. Hanya sempat bertemu dua pekan lalu ketika ia membela mati-matian seorang perempuan malang yang hendak dinikahkan paksa oleh lelaki pemerkosanya. Ia lantang menentang rencana mufakat para tetua desa kala itu. Berujung pada kericuhan warga yang menyahutinya tak beradab, lancang, dan tak sadar kodrat juga umpatan lain yang merendahkan martabatnya sebagai perempuan. Kericuhan berakhir setelah Pak Kades datang melerai, bersama sinyo itu yang mengambil alih musyawarah dan menganjurkan pihak berwenang menangani kasus tersebut.

Sinyo itu turut menyelamatkan Laksmi. Namun ia begitu tak acuh melihat statusnya yang seorang Indo, peranakan pribumi dengan Eropa. Membuatnya tak perlu repot-repot bertegur sapa sampai mengucapkan terima kasih kepada kaum bangsa penjajah itu. Namun, mengingat pesan sang kekasih membuat Laksmi tak memiliki pilihan lain untuk segera menemuinya. Hingga sesosok pria jangkung berambut pirang dengan lengkung matanya yang tajam berdehem pelan menyadarkan lamunannya.

“Baru datang menemui saya, Nona Laksmi?”

Laksmi terkesiap. Ia sampai mendongak demi beradu tatap dengan pemilik suara bariton di hadapannya itu. Sesaat otaknya memproses pendengaran yang ia tangkap dari aksen Bahasa Indonesia pria londo yang sangat kental di hadapannya ini, atau mata biru safir yang mengingatkannya akan birunya rupa laut.

“Eumm.. dengan Meneer Willem? S-saya perlu bicara tent-”

“Wim. Panggil saja saya Wim. Kita akan bicara perihal permintaan mendiang kekasih Nona juga kawan baik saya, Ganang. Sudah lama saya menunggu kedatangan Nona. Senang bertemu dengan anda, untuk yang kedua kalinya.”

***

“Apa yang membuat saya harus percaya padamu? Padahal kekasihku mati karena orang-orangmu!” ketus Laksmi pada Wim.

“Saya berbeda dengan mereka, Laksmi. Mama dan Saya adalah Indonesia. Saya lahir dan besar di Kota Semarang. Selepas lima tahun belajar di Rechtshoogeschool te Batavia, Sekolah Tinggi Hukum di Batavia, saya melanjutkan studi ke Universitas Leiden di tanah kelahiran Papa. Setelah itu, saya kembali ke Indonesia, tepatnya di Bukittinggi untuk mengabdi dan menerapkan ilmu yang saya dapat. Sampai Ganang menghubungi saya dan secara khusus meminta saya singgah di Yogyakarta. Mengabulkan permintaan terakhirnnya bila ia tak kembali dengan selamat dari operasi militer. Perihal mimpi kekasihnya yang tinggi namun terhalang restu sang ayah. Dia minta saya untuk membantu kamu unt-”

“Lalu bantuan apa yang kamu tawarkan padaku, Wim? Aku hanyalah anak durhaka demi memperjuangkan hakikat kodrat dan mimpiku,” sela Laksmi tak sabaran.

“Ikutlah dengan saya, Laksmi. Menjadi partner sekaligus teman berpikir saya selama bertugas menegakkan keadilan walau sampai ke pelosok nusantara.”

“Ikut denganmu? Yang benar saja! Kita bahkan tidak saling mengenal. Walaupun kamu kawan baik Mas Ganang, rasanya tak masuk akal saya menerima bantuanmu begitu saja.”

Wim menghela nafasnya. Sekilas ia teringat pesan Ganang padanya tentang perangai gadisnya yang sungguh tegas juga logis pemikirannya.

“Apa yang membuat kamu menyanggupi permintaan Mas Ganang?” tanya Laksmi.

“Saya tertarik dengan isi kepalamu. Juga gigihnya kesungguhanmu membela mereka yang nyaris diinjak hak dan martabatnya. Maaf jika saya lancang, namun dusta jika saya tidak terpesona dengan kecerdasan dan lantangnya suaramu demi menegakkan keadilan waktu itu. Maka tak perlu pikir panjang bagi saya untuk mengiyakan permintaan Ganang. Karena saya yakin, bahwa kamu dan siapa pun pantas dan berhak meraih mimpinya. Tak peduli gender juga kodrat yang disandangnya,” jelas Wim pada perempuan di hadapannya itu.

“Saya miris dengan konstruksi masyarakat yang masih menguat budaya patriarkinya. Banyaknya ketimpangan perlakuan dalam keluarga maupun masyarakat berujung ketidakadilan dalam pemberian hak dan kesempatan bagi perempuan. Membelenggu anak perempuan dan istri mereka dengan urusan dapur, sumur, dan kasur. Padahal semua perempuan berhak meraih posisi, jabatan, atau pencapaian apa pun sama halnya dengan kaum kami.”

Laksmi terperangah dengan penjelasan panjang lebar Wim. Sosok lelaki yang begitu cerdas, tegas, dan teramat sangat menghargai perempuan. Tatapan Laksmi yang awalnya penuh selidik pada Wim justru berubah menjadi tatapan penuh takjub. Matanya kehilangan tempat berlabuh kecuali pada mata biru safir Wim, seorang advokat Indo yang terlambat ditemuinya sore itu.

“Saya melakukan ini tidak semata-mata karena Ganang adalah kawan baik saya. Tapi saya yakin kamu adalah orang yang tepat menjadi pendamping saya. M-maksud saya mendampingi bertugas. Untuk mengabdi dan memberi bantuan hukum bagi warga sekitar. I-itu maksud saya!”

Wim tiba-tiba gugup berhadapan dengan mata Laksmi yang begitu lekat menatapnya. Dusta pula jika ia tak mengagumi paras ayu juga mata Laksmi yang legam, selegam rambut indahnya yang disanggul rendah. Namun, ia memilih mengubur perasaan itu dalam-dalam. Karena Wim sungguh ingin melihat perempuan ayu di depannya ini bersekolah tinggi dan meraih mimpinya. Menyandang gelar sarjana hukum juga profesi sebagai pengacara, jaksa, hakim, atau apa pun yang diinginkan perempuan itu.

“Saya akan menyekolahkan kamu. Entah itu di Batavia atau Leiden, terserah kamu pilih yang mana. Saya butuh pemikiran kritis dan logismu. Masalah bapakmu, nanti akan saya coba bantu bicara baik-baik. Sungguh saya hendak membantu sepenuhnya jika kamu berkenan,” ucap Wim meyakinkan Laksmi. Membuat mata sang puan berbinar mendengar tawaran oleh lelaki Indo di depannya. Namun, senyum di bibirnya yang sempat mengembang kini ia urungkan karena teringat hal lain yang masih membuatnya ragu.

“T-tapi saya tidak ada uang. Bahkan apa pun untuk membalas niat baik kamu. A-apa ada syarat lain supaya saya bisa ikut kamu? Akan saya lakukan apapun itu!”

“Selama isi kepalamu masih ada saya rasa tidak masalah,” seloroh Wim mengulas senyum. “Tidak usah memikirkan biaya atau apa pun yang harus ditebus demi kesepakatan kita. Cukup fokus sekolah, setelah itu jadi asisten saya. Jika suatu saat kamu siap berdikari, maka saya akan melepas kamu untuk bebas menjadi dan meraih apa yang kamu inginkan.”

Laksmi tidak dapat menahan senyumnya lagi. Tanpa berpikir panjang, ia segera menyetujui tawaran Wim. Menjabat tangan sinyo sekaligus penyelamatnya itu sebagai tanda persetujuannya. Sejenak ia teringat akan kekasihnya yang sampai merencanakan ini semua. Yang telah membuatnya terbebas dari belenggu pikiran patriarki sang Ayah. Yang membuat ia bisa melanjutkan mimpinya melalui Wim. Lalu sejenak ia perlu merenungkan kembali rencananya untuk membujang seumur hidup akibat belenggu sang ayah, ketika ia memandang rupa Wim yang keemasan diterpa hangatnya cahaya matahari sore. Yang turut pula menghangatkan hatinya.

 

Penulis: Anjar Ryan Harimurti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *