Oleh : Fairus Hasna

Sumber gambar : Goodreads

Sebagai seseorang yang menggiati dunia tulis-menulis, ada kalanya saya mengalami stuck dalam proses kepenulisan saya. Fenomena ini dikenal dengan julukan writer’s block, dimana penulis dapat mengalami kesulitan dalam menuangkan ide yang akan diproyeksikan menjadi tulisan. Istilah ini ditemukan oleh Edmund Bergler yang sudah puluhan tahun meneliti fenomena ini bahkan juga bisa dialami oleh beberapa penulis besar seperti Alexandre Dumas, Victor Hugo, JK Rowling, dan Herman Melville.

Fenomena inilah yang diangkat Ika Natassa, salah satu penulis kontemporer kenamaan Indonesia, dalam bukunya yang berjudul The Architecture of Love. Buku ini memiliki genre metropop khas sang penulis.  Genre metropop yang diusung Ika Natassa ini selalu mengangkat sisi kehidupan urban dengan romansa yang sering terjadi pada masyarakat kota. Penulis berhasil membawa para pembacanya sebagai sudut pandang orang ketiga untuk mengikuti kisah Raia, seorang penulis yang sedang dilanda writer’s block  untuk menemukan muse-nya kembali.

Raia, seorang penulis muda terkenal yang buku-bukunya menjadi best seller bahkan banyak dari karyanya yang diangkat ke layar lebar. Sayangnya, penulis muda ini mengalami kenyataan pahit yaitu ada yang hilang dalam dirinya sehingga membuatnya belum bisa menorehkan satu kalimat pun. Ia kehilangan muse-nya, sumber inspirasinya. Dua tahun mengalami writer’s block membuat Raia memutuskan untuk kabur sejauh-jauhnya dan berakhir menginjakkan kaki di New York.

River, seorang arsitek yang sudah setahun tinggal di New York. Namun kata tinggal sepertinya bukan kata yang tepat untuk mendefinisikan keberadaannya disini. Liburan, bukan. Mengungsi pun juga bukan. Menyepi apalagi. Namun yang jelas, Ia memutuskan utuk menjauhi Jakarta setahun lalu. Sudah satu tahun ini River tinggal di New York dan yang ia lakukan hanyalah berkeliling kota sembari menggambar gedung-gedung disana.

Pertemuan kedua mereka di Wollman Skating Rink menjadi awal dari pertemuan-pertemuan selanjutnya. Sejak pertemuan kedua mereka di Wollman Skating Rink, membuat keduanya sering berkeliling kota New York untuk mencari inspirasi, Raia dengan inspirasi untuk tulisannya dan River inspirasi untuk hasil karya sketch-nya. Kebersamaan mereka menimbulkan perasaan yang hadir dalam keduanya. Namun perasaan masa lalu lah yang menjadi penghalang pada kisah ini.

Buku ini ditulis dengan gaya kepenulisan khas sang penulis. Ika Natassa adalah salah satu penulis Indonesia yang suka menggunakan teknik linguistik “Code Switching” dimana beliau menggunakan dua bahasa dalam tulisannya yang diaplikasikan dengan apik dalam satu dialog yang utuh.

“Kamu tahu nggak, dulu waktu selesai dibangun tahun 1902, gedung ini merupakan salah satu bangunan tertinggi di New York, dua puluh lantai. Beautiful and eccentric, but not really practical from an architectural point of view”, salah satu potongan dialog ini menunjukan gaya khas kepenulisan sang penulis.

Selain mengangkat mengenai fenomena menarik di dunia kepenulisan, inovasi strategi marketing untuk menarik minat pembaca dalam proses penulisan novel ini wajib diacungi jempol. Karya ini ditulis Ika Natassa dengan bantuan #PollStory yang berkolaborasi dengan Twitter. Melalui cara tersebut, pembaca memiliki hak untuk menentukan alur cerita melalui sejumlah polling. Proyek penulisan yang dimulai pada 31 Desember 2015 hingga 14 Februari 2016 dengan total 14 episode ini menarik 40.000 pembaca dari seluruh dunia.

Tak hanya “Code Switching”, Ika Natassa juga sering menyajikan karya yang bersifat open ending. Hal ini tuai pro dan kontra dari para pembaca. Saya sendiri bukan penggemar novel open ending, tetapi pembawaan khas Ika Natassa dalam novel romance yang ia tulis tidak pernah gagal membuat saya, pembaca setianya jatuh cinta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *