Oleh: Jihan Shafa Salsabila

Sumber gambar : gambarterbaru.blogspot.com

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan beragam budayanya. Setiap pulau maupun setiap daerah memiliki budaya yang menjadi ciri khasnya masing-masing. Pluralitas budaya yang demikian terdiri dari banyak bentuk, seperti lagu daerah, pakaian tradisional, rumah adat, dan lain-lain. Pluralitas budaya ini menjadi kebanggan tersendiri bagi negara Indonesia karena dapat menjadikannya daya tarik bagi masyarakat nasional maupun internasional.

Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” mengikat pluralitas budaya di Indonesia tersebut menjadi satu  kesatuan yang utuh. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, tak dapat dipungkiri bahwa terjadi pergeseran-pergeseran atas budaya yang ada di Indonesia. Pengaruh globalisasi terhadap kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) menggerus eksistensi berbagai macam budaya di Indonesia. Kemajuan IPTEK seakan menjajah setiap daerah di Indonesia hingga budaya yang kian dijaga menjadi terancam eksistensinya.

Selain itu, pengaruh negatif globalisasi yang mudah mempengaruhi masyarakat Indonesia juga menyebabkan penyelewengan tindakan yang merugikan berbagai aspek termasuk aspek budaya daerah. Salah satu yang terjadi baru-baru ini adalah kasus video asusila yang dilakukan oleh satu orang laki-laki dan satu orang perempuan, di mana perempuan tersebut memakai busana tradisional Indonesia yang sangat dibanggakan, yaitu kebaya berwarna merah ketika melakukan tindakan asusila dalam video tersebut. video tersebut tersebar luas di berbagai media sosial yang tentunya menggemparkan seluruh masyarakat Indoensia.

Sumber gambar : suara.com

Video asusila yang viral tersebut kemudian disebut dengan “video kebaya merah”. Video kebaya merah berdurasi sekitar 16 menit yang hingga saat ini masih terus ditangani oleh pihak kepolisian. Akan tetapi, terdapat satu hal yang perlu menjadi perhatian bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, yaitu penggunaan pakaian pemeran wanita dalam video tersebut yang menggunakan kebaya warna merah hingga menjadi kata kunci dari video tersebut. Penggunaan kebaya sebagai kostum dalam pembuatan video tersebut secara tidak langsung telah menodai harga dan nilai dari kebaya itu sendiri.

Sejatinya, kebaya merupakan warisan busana nusantara yang begitu dijunjung tinggi nilainya dan sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Kebaya juga merupakan salah satu alat pemersatu bangsa Indonesia mengingat hampir di seluruh wilayah Indonesia memiliki ragam kebayanya masing-masing. Pada umumnya, kebaya sering dipakai pada saat acara pernikahan maupun acara resmi lainnya. Tentunya, dengan melihat keistimewaan kebaya sebagai sebuah busana tradisional kebanggaan Indonesia perlu untuk dijaga dan dilestarikan.

Berdasarkan pentingnya nilai dari sebuah kebaya maka penggunaan kebaya dalam video asusila kebaya merah jelas tidak mencerminkan penghargaan atas busana tradisional Indonesia. Bahkan, pemeran perempuan yang mngenakan kebaya merah tersebut begitu bangga videonya viral di media sosial yang terlihat dari cuitannya di Twitter, “Konten ak kesebar berarti storyline-nya bagus wkwk”, tulisnya. Dari cuitan tersebut, tecermin bahwa betapa tidak dihargainya kebaya sebagai busana tradisional Indonesia, bukannya merasa malu justru merasa bangga atas tindakannya yang jelas-jelas melanggar norma kesusilaan di lingkungan masyarakat.

Dari kasus video kebaya merah terlihat bahwa kesadaran atas pentingnya menjaga kekayaan budaya terutama dalam hal ini adalah busana tradisional Indonesia masih sangat kurang. Hal ini harus menjadi pokok perhatian baik dari pemerintah maupun seluruh masyarakat Indonesia. Kebaya sebagai busana tradisonal kebanggan Indonesia wajib untuk dihormati, dijaga, dan dilestarikan. Selain itu, pemakaian kebaya juga wajib diperhatikan agar sesuai dengan yang seharusnya dan bukan digunakan untuk tindakan yang melanggar norma seperti yang tampak pada video kebaya merah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *