Oleh: Lintang Astika N.

Gambar: freepik.com

Seperti yang sudah kita ketahui, maraknya pelecehan seksual di masyarakat tidak bisa dibendung dan tidak ada hentinya. Banyak masyarakat yang memandang sebelah mata mengenai pelecehan seksual, hingga pelecehan seksual dianggap sebagai hal yang tak lazim untuk dibahas dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat juga terus berpikiran bahwa pelecehan seksual hanya bisa terjadi terhadap perempuan, padahal kenyataannya tidak sama sekali.

Pelecehan seksual benar-benar tidak mengenal gender, sehingga hal ini dapat terjadi kepada siapa saja. Dilansir dari katadata.co.id, Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) melakukan survei terhadap 62.224 responden pada tahun 2018 mengenai Pelecehan Seksual di Ruang Publik. Hasil dari survei tersebut menunjukkan jumlah korban berdasarkan gender, dengan rincian bahwa sebanyak 64 persen perempuan, 11 persen laki-laki, dan 69 persen gender lain, pernah mengalami pelecehan seksual.

Lantas, apa arti sebenarnya dari pelecehan seksual itu? N.K. Endah Triwijati dalam jurnalnya Pelecehan Seksual: Tinjauan Psikologis, menyebutkan definisi pelecehan seksual, yaitu suatu perilaku atau perhatian yang bersifat seksual yang tidak diinginkan dan tidak dikehendaki dan berakibat mengganggu diri penerima pelecehan. Pelecehan seksual mencakup, tetapi tidak terbatas pada: bayaran seksual bila menghendaki sesuatu, pemaksaan melakukan kegiatan seksual, pernyataan merendahkan tentang orientasi seksual atau seksualitas, permintaan melakukan tindakan seksual yang disukai pelaku, sampai ucapan atau perilaku yang berkonotasi seksual.

Semua yang disebutkan di atas dapat digolongkan sebagai pelecehan seksual. Namun, hanya sebagian kecil masyarakat yang paham betul mengenai arti dan tindakan tidak senonoh tersebut. Ironisnya lagi, pelecehan seksual kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari mereka secara tidak sadar.

Pelecehan seksual pun bisa terjadi di mana saja, misalnya di tempat umum, sekolah, kampus, kantor, atau bahkan di dalam rumah sendiri. Namun, pelecehan seksual lebih kerap terjadi di tempat umum atau ruang publik. Ini dikarenakan di tempat umum banyak orang yang tidak dikenal hingga korban sangat minim untuk mendapatkan bantuan.

Kemudian ketika korban berani untuk berteriak atau meminta tolong, seringkali tidak dipedulikan oleh masyarakat karena masyarakat menganggap tindakan tersebut adalah hal normal dan tidak perlu dikhawatirkan. Seperti contohnya ada orang asing yang tiba-tiba mengelus tangan kita atau bahkan mengelus paha kita, hal tersebut tentunya merupakan pelecehan seksual. Tetapi mirisnya, sebagian besar masyarakat di negeri kita ini masih banyak yang menyepelekan. Alih-alih memberi dukungan kepada korban, mereka malah berujar hal-hal yang menyakitkan, seperti:

Halah, begitu aja diributin! Biasa aja, kali.”

“Kamu masih ‘utuh’, ‘kan?”

“Mengaku saja, kamu pasti menikmatinya.”

Rentetan ujaran tersebut justru membuat banyak korban pelecehan seksual ini merasa dianggap lebay dan enggan untuk speak up. Imbas buruknya, kejadian ini pun semakin membuat pelaku di atas angin karena merasa tidak bersalah dan bisa semakin menjadi-jadi.

Menurut warta portal Economica, banyak sekali pelecehan seksual di masyarakat dalam skala kecil dan dianggap sepele, namun memiliki dampak yang besar terhadap korban, di antaranya adalah pelecehan fisik (body shaming), pelecehan verbal (catcalling), pelecehan mental (gaslighting), dan sebagainya. Adanya normalisasi dan penyepelean pelaporan kasus menjadikan banyak korban pelecehan seksual ranah publik enggan melaporkan tindakan yang mereka alami.

Akibat dari adanya normalisasi dan penyepelean dari pelecehan seksual ini adalah sedikit sekali korban yang berani speak up dan melaporkan atas kejadian yang mereka alami. Kebanyakan dari mereka akan memilih diam karena merasa semakin terpojokkan ketika melapor. Selain itu, ketika melapor mereka takut kasus yang mereka laporkan itu tidak dianggap dan tidak ditangani sehingga tidak bisa terselesaikan dan semua itu akan berujung pada hal yang sia-sia. Mereka juga takut ketika melapor akan terjadi keadaan victim blaming. Dikutip dari kompasiana.com, victim blaming adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyalahkan korban atas kejadian atau bencana yang menimpa si korban.

Masyarakat juga tidak jarang untuk meminta korban untuk diam saja atas hal buruk yang menimpanya tersebut dan justru menormalisasi perilaku pelecehan seksual karena dianggap tabu. Stigma ini sungguh mengerikan karena sekali lagi saya tekankan, dapat memberikan kelonggaran pada oknum tertentu untuk berlaku semana-mena dan seenaknya. Maka seharusnya, masyarakat mulai membuka mata lebar-lebar karena hal ini bukanlah hal yang tabu lagi karena telah merugikan banyak pihak. Seharusnya perbincangan mengenai pelecehan seksual lebih banyak digaungkan guna mengedukasi setiap orang bahwa ada hal yang memang mengganggu dan tidak layak untuk dilakukan ke orang lain. Jika sudah teredukasi, maka orang akan berpikir ulang untuk melakukan tindakan itu dan probabilitas terulangnya kejadian serupa dapat diminimalisir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *