Oleh: Muhammad Rafif

Gambar: bisnisukm.com

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki keanekaragaman suku budaya dengan berbagai macam latar belakang kultur daerah. Keanekaragaman itu membuat setiap daerah yang terbentang dari Sabang sampai Merauke ini memiliki keunikan masing-masing. Mulai dari bahasa, cara berpakaian, adat istiadat, pola hidup, hingga cita rasa dari setiap bumbu-bumbu yang ditaburkan di berbagai jenis makanan khas daerahnya pun beraneka ragam. Meskipun negara ini memiliki sejuta keragaman, Indonesia tetap berpegang teguh dengan semboyannya, yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”, yang artinya meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu jua.

Makanan tak pernah lepas dari kehidupan manusia. Makanan memberikan cita rasa bagi kehidupan manusia yang hambar. Selain menjadi warna bagi indra pengecap, makanan juga menjadi asupan bagi tumbuh dan kembang manusia. Tanpa makanan, manusia akan sulit untuk bertahan hidup. Menurut para ahli gizi, manusia hanya dapat bertahan hidup tanpa memakan makanan hanya dalam kurun waktu satu sampai tiga minggu saja. Awalnya pada zaman prasejarah, manusia mengonsumsi makanan hanya untuk memenuhi rasa lapar saja. Secara bertahap, manusia menyadari pentingnya mengonsumsi makanan tidak hanya sekadar memenuhi rasa lapar saja, akan tetapi juga yang dapat dinikmati dan memenuhi gizi.

Keberagaman Indonesia tak akan lepas dengan kekayaan rasa dari setiap bumbu masakan yang tersaji di setiap daerah Indonesia. Berdasarkan pendataan budaya yang dilakukan oleh Komunitas Sobat Budaya, Indonesia setidaknya memiliki lebih dari 1.458 resep makanan dan minuman tradisional. Di antara data tersebut, terhitung sekurangnya 50 jenis soto, 100 jenis sambal, dan lebih dari 60 jenis masakan sate dari seluruh Nusantara.

Setiap daerah memiliki rasa dan ciri khasnya masing-masing. Sumatera Barat khas dengan masakan bersantan dan kaya akan rempah-rempah. Jakarta yang lebih dominan rasa gurih, sedikit pedas, dengan bumbu-bumbu seperti sereh, jahe, lengkuas, dan salam. Jawa Barat yang sering memakai bahan-bahan mentah seperti karedok dan lalapan, serta Jawa Tengah dan sekitarnya yang mempunyai karakteristik makanan yang manis dan tergolong kurang pedas. Selain daerah-daerah tersebut, masih banyak lagi daerah dengan masakan yang memiliki karakteristik unik dan jarang ditemui. Para sosiolog dan ahli gizi menemukan fakta bahwa keberagaman masakan Indonesia disebabkan beberapa faktor, yaitu faktor sosial budaya dan faktor geografis.

Jakarta yang merupakan kota yang kaya akan budaya dan keunikan orang-orangnya memiliki sejuta kenikmatan kuliner yang tidak akan habis untuk dibahas. Daerah yang juga disebut Batavia ini merupakan pusat perekonomian dan juga sebagai pusat perdagangan Nusantara, menyebabkan banyak masyarakat dari berbagai daerah masuk ke Batavia. Tak hanya dari daerah lain, akibat masuknya Bangsa Eropa dan Asia membuat beberapa warganya juga menetap. Masuknya masyarakat luar menyebabkan adanya interaksi antaretnik yang membentuk sebuah akulturasi budaya. Akulturasi budaya tersebut pun memengaruhi masakan khas daerah Suku Betawi. Akulturasi budaya tersebut juga memengaruhi penggunaan bahan tertentu dan teknik memasak.

Dilansir dari situs resmi Lembaga Kebudayaan Betawi, beberapa etnis yang memengaruhi kuliner Betawi secara signifikan adalah Cina, India, Arab, Portugis, dan Belanda. Akulturasi budaya antara masyarakat Betawi dan Cina, contohnya menghasilkan jenis makanan bakmi dan bakso. Bakmi dan bakso dari Cina merupakan sajian dengan daging babi. Namun, masyarakat Betawi banyak yang beragama Islam sehingga daging babi diganti dengan daging sapi atau ayam. Sementara itu, ada juga bihun dan tahu yang berasal dari Cina. Bihun dan tahu tersebut jadi unsur penting dalam hidangan khas Betawi, yakni soto mi, ketoprak, pecel bihun, taoge goreng, dan masih banyak lagi. Sementara itu, budaya India dibawa oleh para pedagang Gujarat yang membawa pedagang dari Kerala. Mereka terkenal sebagai juru masak yang andal. Santan jadi salah satu bahan masakan yang dibawa oleh pedagang Gujarat ini dan digunakan secara luas di banyak makanan Betawi.

Masih banyak masakan Betawi dan juga Nusantara dengan begitu banyak cerita dan goresan kejadian masa lampau yang terkandung di setiap racikan bumbunya. Namun, tidak mungkin semua dapat tertuang pada tulisan ini karena justru bisa saja menjadi menjadi novel atau buku ensiklopedia sejarah. Sebagai masyarakat Indonesia dengan segala keanekaragaman yang terkandung di dalamnya, berharap masakan khas di seluruh pelosok negeri ini tidak akan hilang seiring berkembangnya zaman. Karena anak cucu kita juga harus mencicipi betapa indahnya surga duniawi yang terkandung di setiap suap makanan tradisional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *