Oleh: Liony Kristine Gultom

Gambar: crystalrose.com

Angka kekerasan seksual semakin meningkat di Indonesia. Hal tersebut dikonfirmasi oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan melalui laman resminya. Salah satu upaya untuk memberantas persoalan tersebut adalah pemberian sex education atau pendidikan seks untuk anak dan remaja.

Hal tersebut dibenarkan oleh beberapa ahli. Mengutip dari Advocates for Youth, pendidikan seks yang komprehensif dan program pencegahan HIV/AIDS yang efektif menunjukkan pengaruh terhadap perubahan perilaku dan/atau mencapai dampak kesehatan yang positif, termasuk menunda melakukan seks pertama, penurunan kejadian seks tidak aman, peningkatan penggunaan kondom dan kontrasepsi, serta tingkat kehamilan dan angka kejadian infeksi menular seksual (IMS) yang jauh lebih rendah. Boyke Dian Nugraha, seorang Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi pun mengungkapkan berbagai alasan mengapa memberi pendidikan seks sejak dini pada anak sangat penting. Boyke mengatakan, memberi pendidikan seks sejak dini bisa melindungi anak dari pelecehan seksual.

Pemberian pendidikan seks untuk anak dapat dimulai dari orang terdekat, contohnya keluarga. Hal tersebut merupakan dasar bagi anak-anak dan remaja untuk berperilaku dan bertindak benar dalam dalam mengambil keputusan terkait kehidupan seksualnya. Namun mirisnya, selama ini pendidikan seks untuk usia dini dianggap tabu oleh masyarakat Indonesia. Sebagian besar beranggapan bahwa pendidikan seks belum pantas diberikan pada anak di bawah umur. Hal tersebut dikarenakan salah kaprah yang terjadi di masyarakat. Seperti yang dikutip dari jurnal berjudul Persepsi Orang Tua dalam Pendidikan Seks pada Anak di Desa Sitimulyo Piyungan Bantul, Lestari dan Prasetyo mengatakan bahwa kebanyakan orang tua beranggapan pendidikan seks hanya berisi tentang alat kelamin dan berbagai posisi saat berhubungan badan.

Salah kaprah yang telah mendarah daging pun menjadikan pendidikan seks menjadi tabu. Padahal dengan memberikan pendidikan seks yang sesuai sejak dini sangat berpengaruh dalam kehidupan anak ketika memasuki masa remaja nantinya. Dampak pelabelan tabu itu pun berdampak pada penolakan dari berbagai pihak untuk memberikan pendidikan seks.  Sebagian besar dari mereka yang menolak pendidikan seks tidak mengetahui bahwa dengan rendahnya akses formal terhadap pendidikan seks di Indonesia akan membuat anak maupun remaja cenderung mencari tahu melalui sumber lain. Sebutlah dari internet, film dengan muatan tidak senonoh, dan pergaulan di lingkungan sekitarnya.

Oleh karena itu, peran orang tua sangat dibutuhkan sebagai pendidik utama anak untuk berdiskusi mengenai seksualitas dan kesehatan produksi. Mendiskusikan seksualitas merupakan bagian terpenting untuk berkomunikasi dengan anak. Komunikasi dilakukan sejak dini antara orang tua dan anak, terutama saat anak beranjak remaja.

Dengan komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak, maka akan membuat anak terbuka mengenai semua permasalahannya. Mulai dari permasalahan dengan temannya, kisah asmara, kesehatan mentalnya, hingga penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang. Pendidikan seks juga memberikan kesempatan untuk para orang tua menanamkan nilai-nilai yang ada pada keluarganya.

Namun perlu diingat, pemberian pendidikan seks harus didiskusikan sesuai dengan umur anak tersebut. Dalam memberikan penjelasan, dianjurkan disampaikan dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami anak. Pemberian topik tentang seks harusnya bertahap agar mengurangi rasa keingintahuan anak. Sejak dini, anak harus bisa mengetahui dan membedakan bagian tubuhnya.

Hindari pemberian nama ambigu seperti “anu” atau “susu” untuk membantu anak mengetahui tubuhnya sendiri. Dalam masyarakat, memberikan pendapat bahwa anak yang mengucapkan nama-nama mengenai seks selalu dianggap jorok, padahal dengan mengetahui seks dari sejak dini bisa mengurangi pergaulan bebas dan terhidar dalam melakukan hal yang belum pada waktunya. Jadi gunakan istilah yang benar sejak dini kepada anak-anak seperti payudara, dada, penis, vagina, dan sebagainya.

Pengenalan seks pada saat pubertas sangat diperlukan untuk mengetahui bentuk fisik tubuh yang berubah akibat pubertas. Bahkan bila perlu sebelum mencapai masa purbertas, anak sudah diberitahu terlebih dahulu mengenai hal-hal itu, misalnya, “Dek, coba lihat si kakak deh, sekarang dia jenggotan. Nanti kalau sudah beranjak besar, rambut juga akan tumbuh di sekitar penis/vagina serta di ketiak kamu. Kalau sudah mencapai masa itu, bisa ditanyakan ke Ibu, ya, Dek.”

Maka dari itu, jangan pernah malu untuk memberikan edukasi mengenai seks ataupun berbicara menggunakan kalimat yang sering dianggap tabu bagi banyak orang. Orang tua dijadikan guru pertama bagi anak-anaknya. Semoga dunia pendidikan Indonesia peduli akan pendidikan seks sejak dini agar mengurangi dampak-dampak negatif dari perilaku seks yang tidak seharusnya, seperti kehamilan di luar nikah, aborsi, kekerasan seksual, dan lain sebagainya. Keluarga diharapkan untuk memberikan informasi dan pendidikan seks sesuai dengan usia anak sejak dini. Pendidikan seks sekarang bukanlah hal yang tabu, apalagi sekarang bisa disampaikan dengan bahasa yang benar dan waktu yang tepat sesuai dengan usia perkembangan anak dan remaja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *