Oleh: Anjar Ryan Harimurti

Ilustrasi: freepik.com

Dewasa ini, sering kita temukan berbagai macam istilah dan pelabelan diri akan suatu hal. Misal saja label open minded pada diri seseorang atas pemikirannya yang dinilai terbuka terhadap beragam ide, argumen, dan informasi. Dengan menjadi orang berpikiran terbuka, umumnya dianggap memiliki kualitas positif untuk kemudian dapat berpikir secara kritis dan rasional. Mengingat kita tinggal di dunia yang semakin berubah di tiap zamannya, diikuti pula dengan pemikiran-pemikiran manusia modern yang semakin berkembang pula. Dari sinilah kemudian muncul orang-orang yang menyatakan dirinya sebagai kaum open minded yang mau menerima hal-hal baru sebagai bentuk kebijaksanaan berpikir. Kemudian ada pula sebutan bagi kaum sebaliknya yaitu close minded. Seperti artinya yaitu pemikiran tertutup, kaum close minded cenderung enggan menerima ide-ide baru dan masih betah mempertahankan gaya lamanya.

Namun, makin ke sini berkembangnya pemikiran yang disebut open minded tersebut justru berakhir dengan kebablasan berpikir dalam memaknai dan membenarkan suatu hal baru yang bahkan dianggap tabu oleh masyarakat. Parahnya lagi, beberapa oknum yang mengaku open minded ini mengklaim diri mereka open minded saat menerima perubahan-perubahan yang sifatnya melanggar norma dan batasan agama. Lantas membuat agama seolah-olah bukanlah sesuatu yang begitu penting. Dalihnya zaman sudah semakin maju, maka pemikiran kita pun tidak boleh dikekang oleh apa pun.

Kita sebagai orang Indonesia yang rata-rata beragama pasti telah diajarkan berbagai perintah dan larangan dalam agama masing-masing. Sayangnya, kaum kebablasan open minded ini selalu membuat dalih bahwa sesuatu yang berlawanan dengan agama itu sudah lumrah di zaman sekarang bahkan dianggap menjadi lifestyle. Menjadi open minded dianggap sebagai simbol kebijaksanaan berpikir dan ajang keren-kerenan. Alih-alih memberikan pencerahan terhadap suatu isu, para kaum open minded ini justru menghasut, menyerang, memperolok, dan menghakimi orang-orang yang tidak sepemikiran dengannya. Kemudian mereka mengeluarkan jurus pamungkasnya dengan berkata, “Kamu kok nggak open minded, sih?”

Kerap kali narasi yang dibangun oleh mereka yang open minded ini menjadikan agama sebagai lelucon dengan membebaskan tindakan-tindakan menyimpang dan melanggar perintah agama. Misal saja dalam menanggapi isu lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) yang mana di Indonesia sendiri tidak ada satu agama pun yang memperbolehkan hal tersebut. Namun realitanya, ada beberapa pihak yang menyuarakan LGBT untuk dapat diakui dan dihargai keberadaannya.

Jika ada orang yang menasehati tentang LGBT dari sisi agama, maka langsung dibungkam oleh mereka yang pro LGBT berlabel open minded. Mereka menjejali tentang toleransi dan menyinggung urusan dosa bukanlah menjadi urusan publik, melainkan urusan pribadi yang bersangkutan dengan Tuhan. Beberapa dari mereka bahkan menghakimi orang yang tidak mendukung LGBT dengan sebutan homophobic. Mengutip dari European Union Agency for Fundamental Rights, arti homophobic atau homophobiaadalah rasa ketakutan yang tidak wajar dan keengganan pada homoseksual, lesbian, gay, dan biseksual dengan prasangka yang buruk. Mengaku open minded tetapi menyuruh orang beragama untuk diam dan toleransi.  Lalu dimana letak toleransinya terhadap orang beragama?

Melihat berbagai macam persepsi kebablasan orang-orang open minded ini dapat kita lihat pola pikir mereka bahwa yang namanya berpikiran terbuka maka jadilah mereka bebas untuk berpikir dan bertindak apa saja. Namun, pemikiran yang terlalu bebas dengan menjadikan open minded sebagai tameng dan dalih untuk membenarkan pemikiran mereka juga bukanlah hal bijak. Apalagi jika kita berbicara kultur masyarakat Indonesia yang begitu kental dengan budaya ketimuran yang memegang erat norma agama, norma sosial, dan norma susila. Hadirnya mereka yang mengaku sebagai orang open minded ini justru membuat semua norma tersebut perlahan memudar dalam diri masyarakat Indonesia.

Sebenarnya ukuran dari open minded itu sendiri dapat diartikan secara sederhana saja, yaitu mampu menghargai dan melihat sesuatu dari segala sisi. Open minded bukan berarti kita tidak boleh berpihak. Hanya saja dengan menjadi open minded kita tidak perlu menyalahkan dan menghakimi pihak lain yang tidak sepemikiran dengan kita. Karena menjadi open minded tidak hanya seputar membuka diri terhadap hal baru. Harus dibarengi kemampuan mengendalikan diri serta tahu kapan waktu yang tepat untuk berhenti berbicara dan memulai mendengar argumen dari sudut pandang berbeda.

Menjadi kaum open minded sebenarnya cukup dengan tidak mencela dan menelan mentah-mentah ide atau informasi tetapi tetap mempertimbangkan perspektif lain. Tentu saja hal ini memiliki batasan dan tidak mengharuskan kita untuk bersimpati dengan setiap ideologi atau argumen. Kita dapat berusaha memahami faktor-faktor yang mungkin mengarah pada ide-ide itu sampai dapat membantu dan menemukan cara untuk membujuk orang untuk mengubah pikiran mereka, sekiranya itu diperlukan. Pemaksaan kebenaran sebuah logika hanya akan berpotensi menimbulkan konflik sosial baru, bukan suatu pencerahan dan pemecahan masalah yang tepat. Menghakimi orang lain yang dianggap tidak open minded karena masih berpegang teguh dengan norma yang ada adalah sebuah tindakan yang salah. Karena pada dasarnya berpikiran terbuka itu berfungsi sebagai penyaring, bukan sebagai penyaluran sifat egois supaya orang lain sepemikiran dengan kita apalagi jika hal tersebut melanggar dari norma dan agama yang ada.

Comments

    1. Admin bilang mereka para pelabel diri ”open minded” suka menghasut,memperolok,menyerang dan menghakimi, bukankah mereka yg mngatakan dirinya ”manusia beragama” juga melakukan hal yang sama? Menyerang,menghasut,memperolok,menghakimi yg berbeda keyakinan? Saya kira ini masalah dalam setiap pribadi masing2, org openminded,beragama, kalo dasar nya suka menyerang,mnghasut dll ya bakal kaya gtu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *