Oleh : Galuh Nur Hasanah

Sumber gambar: vectorstock.com

Dalam kehidupan ini, kita tidak bisa lepas dari interaksi dengan orang lain baik di dunia nyata maupun dalam dunia maya. Terkadang, interaksi tersebut menimbulkan penilaian yang muncul dari masing-masing pihak. Penilaian dari orang lain bisa menjadi hal utama yang sangat berpengaruh bagi diri sendiri. Namun, ternyata penilaian yang dilontarkan seseorang tidak melulu bersifat membangun, tapi bisa juga bersifat judgemental.

Berdasarkan Cambridge Dictionary, pengertian judgemental adalah tending to form opinions too quickly, especially when disapproving of someone or something. Dengan kata lain, judgemental merupakan sifat yang cenderung membentuk opini terlalu cepat, khususnya ketika tidak menyetujui seseorang atau sesuatu. Sebuah stigma yang dilekatkan pada perilaku judgemental kebanyakan bermakna negatif.

Maraknya budaya menghakimi ini kian nampak dari penggunaan media sosial yang tidak mengenal status dan kedudukan seseorang. Banyak komentar dari orang-orang yang memenuhi lini masa mengarah pada perbuatan judgemental, bahkan tidak sedikit yang terang-terangan menghakimi secara sepihak. Dalam bahasa gaul, perilaku itu sering disebut dengan julid. Sebenarnya, julid berasal dari bahasa Sunda yaitu binjulid yang artinya iri, dengki, atau sikap kekanakan dalam menanggapi sesuatu.

“Jangan menilai sesuatu dari luarnya saja” adalah sebuah istilah awam yang seringkali tidak berlaku dalam interaksi di media sosial. Banyak masyarakat yang senang menghakimi seseorang dengan hanya melihat konten yang diunggah oleh orang tersebut. Bahkan, hal ini bisa terjadi pada mereka yang tidak saling mengenal di dunia nyata. Pantaskah kita melakukan judgement terhadap kehidupan orang lain terlebih yang tidak kita kenal? mungkin saja sesuatu yang kita hakimi hanyalah sepenggal dari rentetan cerita kehidupannya yang panjang.

Muzafer Sherif dan Carl Hovland, peneliti di bidang psikologi, menyatakan bahwa dalam berinteraksi, kita bergantung pada sebuah dasar sebagai acuan internal yang berada pada pemikiran kita masing-masing yang mengacu dari pengalaman sebelumnya. Jadi, penilaian sosial tidak hanya didapat dari melakukan pengamatan, namun juga dipengaruhi oleh sebuah kerangka rujukan (reference point) yang biasa disebut sebagai persepsi, dengan bermacam penafsiran dan sudut pandang yang tak lepas dari pengalaman diri sendiri. Dengan dasar itu pula seseorang melakukan penghakiman terhadap baik atau buruknya kehidupan orang lain.

“Itu cewek sering banget pulang malam, pasti cewek nggak baik,” padahal alasannya pulang terlambat adalah karena ia harus bekerja lembur untuk menambah penghasilan.

“Sok-sokan tanya, cari muka depan dosen,” padahal ia bertanya karena memang masih belum paham dengan penjelasan dosen.

Ih bajunya itu-itu saja, nggak mampu beli, ya?” padahal ia memang nyaman dengan bajunya dan esensi dari semua pakaian itu sama, yaitu untuk melindungi tubuh.

Selain contoh di atas, masih banyak anggapan atau ucapan masyarakat zaman sekarang yang menjurus ke judgemental. Terkadang, persepsi-persepsi tersebut tidak benar adanya dan tidak sesuai dengan kenyataan. Persepsi negatif juga tidak menutup kemungkinan akan memunculkan sebuah stigma atau labeling yang buruk pula. Goffman dalam bukunya, Stigma: Notes on the Management of Spoiled Identify, mengemukakan bahwa stigma adalah sebuah atribut dengan tujuan mendiskreditkan individu atau orang-orang di mata orang yang lain. Sebuah stigma tidak hanya dikenakan pada karakter saja, namun bisa jadi mengenai fisik, status, gender, dan lainnya.

Sering kali kita sudah men-judge di dalam batin kita saat melihat seseorang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan standar kita. Secara sadar maupun tidak, hal ini akan melahirkan penilaian kita terhadap orang tersebut. Pada dasarnya, sifat judgemental bisa dimiliki oleh seseorang karena kurangnya rasa untuk menerima perbedaan.

Kita harus menyadari bahwa setiap orang mempunyai cara untuk menjalani hidupnya masing-masing, kita tidak seharusnya menghakimi mereka karena hal ini merupakan urusan pribadi. Hidup akan berjalan dengan lebih baik saat kita berusaha saling memahami dan menghormati orang-orang yang ada di sekitar kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *