Oleh: Liony Gultom

Sumber gambar: www.sehatq.com

Pandemi yang tak kunjung berakhir membuat banyak orang merasa jenuh. Hal ini terjadi karena keadaan yang berubah drastis, kita tak lagi bebas bergerak dan beraktivitas di luar ruangan seperti biasanya. Rasa jenuh tersebut dapat menyebabkan seseorang menjadi tidak bersemangat dan kehilangan motivasi untuk melakukan hal yang menjadi tujuan dan mimpinya. Keadaan ini bisa juga disebut sebagai demotivasi.

Dilansir dari www.ekrut.com, demotivasi adalah kebalikan dari motivasi. Jika motivasi diartikan sebagai dorongan yang dimiliki seseorang untuk berbuat sesuatu, maka demotivasi adalah kondisi ketika seseorang tidak memiliki dorongan untuk berbuat sesuatu yang mengakibatkan hilangnya semangat dan cenderung seperti kehilangan arah. Hal ini bisa terjadi di tempat kerja, sekolah, bahkan lingkungan masyarakat umum.

Ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang mengalami demotivasi, misalnya seperti kelelahan fisik, mental, atau emosional akibat stres berkepanjangan. Hal-hal tersebut  merupakan faktor yang terjadi secara umum. Penyebab seseorang berada di fase demotivasi berbeda satu sama lain.

Demotivasi memberi pengaruh buruk terhadap kehidupan seseorang seperti menurunnya produktivitas dan performa. Jika keadaan ini semakin memburuk dan membuat kita tak bisa mengontrol diri sendiri, pastikan minta bantuan ke tenaga profesional. Kita dapat meminta pertolongan ke psikolog atau psikiater jika demotivasi ini sudah mengganggu kesehatan mental kita.

Namun jika kondisi demotivasi ini masih pada tingkat awal, hal ini bisa diatasi oleh diri kita sendiri. Beberapa tindakan yang bisa dilakukan seseorang untuk mengatasi demotivasi yaitu seperti mengurangi pikiran negatif, menerapkan self compassion, menerapakan self care, atau berkonsultasi dengan tenaga profesional seperti psikolog dan psikiater. Hal-hal tersebut dapat mengurangi keadaan seseorang yang berada dalam fase demotivasi.

Istilah self compassion mungkin masih terdengar asing di telinga kita. Self compassion merupakan kondisi di mana kita secara tulus menerima diri sendiri atau bersikap baik kepada diri sendiri. Hal ini sangat membantu untuk mengurangi kondisi demotivasi.

Kristin Neff, seorang profesor psikologi di University of Texas, mengatakan bahwa ada tiga elemen yang dapat dipraktikkan dalam self compassion. Pertama, yaitu self kindness di mana kita harus menyadari dalam situasi apapun kegagalan dapat kita alami, dengan kata lain kita harus bisa mengakui diri kita kalah tanpa merendahkan diri. Kedua, yaitu common humanity di mana saat kita dihadapkan masalah, kita harus melihat peristiwa itu secara luas dan mengganggapnya sebagai pengalaman hidup. Ketiga, yaitu mindfulness di mana kita harus bisa fokus terhadap masalah dan emosi yang dirasakan secara terbuka.

Selain self compassion, ada juga self care yang dapat membantu seseorang keluar dari keadaan demotivasi. Dilansir dari www.gramedia.com, self care merupakan kegiatan yang dilakukan oleh individu untuk merawat dirinya sendiri dengan hal yang berfaedah bagi diri, baik itu secara rohani maupun jasmani. Self care tidak hanya dapat meningkatkan kesehatan mental kita, tapi juga kesehatan secara fisik. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mewujudkan self care, yaitu dengan istirahat yang cukup, olahraga secara teratur, konsumsi makan sehat dan bernutrisi, meluangkan waktu untuk bersantai, serta hindari kebiasaan yang tidak sehat.

Jangan pernah malu atau takut apabila kita sedang berada di fase demotivasi. Sebagai manusia, sangat wajar jika kita merasa kehilangan motivasi atau merasa tak punya tujuan yang hendak dicapai karena tuntutan dari lingkungan. Tetapi, kita harus bisa meyakinkan diri sendiri kalau kita mampu menghadapi masalah ini. Jangan lupa sisakan waktu untuk menyenangkan diri sendiri, karena hal itu sangat penting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *