Oleh: Samuel Bintang

Sumber gambar : instagram.com/johnholcroftillustration

Media sosial merupakan ekosistem baru yang saat ini sangat digemari dalam peradaban modern manusia. Pengguna media sosial datang dari berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga mereka yang sudah lanjut usia. Media sosial menawarkan konektivitas, hiburan, informasi, dan yang paling penting adalah kebebasan bagi para penggunanya. Dengan daya tarik tersebut, media sosial memberikan setiap orang kemampuan untuk menggenggam dunia bahkan menciptakan dunia mereka sendiri. Hanya dengan bermodal ponsel dan koneksi internet, kita dapat berselancar untuk mencari informasi, bertukar kabar dengan kerabat, dan menikmati hiburan hanya dalam satu kedipan mata.

Sayangnya, konektivitas dan kebebasan yang ditawarkan media sosial bisa menjadi bumerang bagi manusia itu sendiri. Hal ini bisa terjadi karena media sosial memberi kesempatan setiap pengguna untuk mempertontonkan kehidupannya serta menyelami kehidupan seseorang.

Sesuai dengan ungkapan homo homini lupus, yang memiliki arti bahwa manusia adalah serigala bagi sesama manusia lainnya. Media sosial setiap harinya mempertontonkan berbagai bentuk “serigala” dalam diri manusia yang penuh akan keegoisan. Ia merasa bebas tanpa memperhatikan apakah kebebasannya itu mengganggu kebebasan orang lain. Serigala yang muncul dalam media sosial ini adalah bentuk dari “masturbasi” ego manusia yang pada dasarnya selalu haus akan validasi. Seseorang yang sudah telanjur menikmati “masturbasi” ego, akan menjadikan hal itu sebagai kebiasaannya. Ia tak dapat berhenti sebelum akhirnya kenikmatan itu sendiri yang menghentikannya.

Menurut Sigmund Freud, salah satu pemikir paling terkenal dalam ilmu psikologi, menjelaskan bahwa manusia memiliki struktur kepribadian yang dibagi menjadi tiga, yaitu id, ego, dan superego. Id adalah keinginan paling liar yang dimiliki setiap orang, seperti makan, minum, dan seks. Ketika seseorang terlalu mementingkan id-nya, maka ia akan menjadi orang yang menghalalkan segala cara demi memenuhi kebutuhannya, salah satunya yaitu nafsu diri. Freud menyebut orang seperti ini sebagai idish dan kita biasa menyebutnya egois.

Di media sosial, orang-orang egois membuat perlombaan kehidupan antara sesama pengguna. Hal ini mendorong munculnya macam-macam stereotip sosial baru dalam media sosial. Stereotip ini bermacam-macam, mulai dari segi intelektual hingga material, seperti siapa yang lebih kaya, siapa yang lebih pintar, siapa yang lebih good looking, dan berbagai hal lainnya.

Salah satu cara menikmati media sosial dan menangkal keegoisan yang ada di dalamnya adalah dengan menerapkan filsafat hidup ala stoic. Dalam aliran stoicism, hidup adalah tentang menikmati kehidupan tanpa dibutakan ekspektasi. Kita harus menekankan dimensi internal untuk selalu hidup bahagia tanpa harus terpengaruh oleh hal eksternal, seperti komentar dan postingan orang lain di media sosial. Setidaknya, ada tiga kunci utama untuk hidup seperti orang-orang santuy ini tanpa rasa egois.

Pertama, kita harus memperhatikan nilai dari setiap hal yang kita lakukan. Hal ini bisa menjaga kesehatan mental kita, jika kita melakukan sesuatu berdasarkan moralitas dan akal. Menurut kaum stoic, hal tersebut bisa menjamin kebahagiaan kita. Perkara lain semisal harta, kesuksesan, popularitas, atau jabatan, tidak pernah bisa memberi seseorang kebahagiaan. Meskipun tak ada yang salah dari hal-hal tersebut, namun sering kali bisa menjadi akar kerusakan mental rasional yang sehat.

Kedua, yaitu mengelola emosi. Emosi yang kita rasakan adalah cerminan dari pemikiran atau persepsi kita terhadap sesuatu. Emosi negatif berasal dari perspektif yang negatif pula. Oleh karena itu, mengubah pemikiran dan persepsi dalam menanggapi komentar atau postingan di laman media sosial merupakan cara terbaik memperbaiki perasaan.

Ketiga, yaitu perihal kendali. Dalam kehidupan ini, ada hal yang bisa kita kendalikan dan ada pula yang tidak bisa. Kita tidak bisa memiliki kendali atas sesuatu yang memang tidak bisa kita kendalikan. Kesengsaraan dalam hidup biasanya disebabkan karena kita tidak paham mengenai hal ini.

Pada akhirnya, kendali menjadi kunci utama dalam menanggapi berbagai bentuk “masturbasi” ego di media sosial. Kita perlu sadar bahwasanya cara untuk menikmati media sosial yang isinya adalah orang-orang yang haus akan validasi adalah dengan mengendalikan diri kita sendiri. Hal ini perlu dilakukan agar kita tidak terbawa arus dan termakan sesaat oleh nafsu dan ego.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *