Oleh: Sigit Dwi Nugroho

Ilustrasi oleh: Shraddha Lath (id.pinterest.com)

Maskulinitas yang beracun, atau lebih populer dengan sebutan toxic masculinity merupakan suatu hal yang seringkali kita lihat dalam kehidupan, baik dalam kehidupan nyata sehari-hari maupun media sosial. Lalu, apa sebenarnya toxic masculinity itu? Menurut Erika Cisneros dalam sccgov.org, toxic masculinity bukanlah arti sebenarnya dari maskulinitas itu sendiri, melainkan deskripsi perilaku gender yang terjadi sebagai akibat dari ekspektasi kejantanan yang “salah”. Sementara dilansir pada medium.com/@factnews, secara sederhana toxic masculinity dapat diartikan sebagai deskripsi sempit tentang kejantanan yang didefinisikan sebagai kekerasan dan agresivitas.

Maka dalam toxic masculinity, dapat dikatakan bahwa kejantanan dilihat dari kekuatan, yang mana kekuatan adalah segalanya. Sementara emosi yang boleh diperlihatkan oleh laki-laki, mengutip dari sccgov.org, hanyalah kemarahan, penghinaan, dan kebanggaan. Jika laki-laki memasang emosi di luar itu, maka mereka akan dianggap lemah. Laki-laki dituntut untuk bisa mengendalikan emosi, dominan, dan mahir dalam segala hal.

Maskulinitas yang beracun selalu dijumpai oleh laki-laki, bahkan sejak kecil. Sebagai contoh, ketika anak laki-laki yang masih berumur 5 tahun jatuh, kemudian ia menangis, orang tuanya biasanya malah berkata, Laki-laki kok, nangis? Laki-laki nggak boleh nangis,harus kuat!” Hal tersebut justru membuat anak yang bersangkutan menjadi lebih sedih. Entah laki-laki maupun perempuan, kita semua butuh menyampaikan emosi. Namun faktanya, sebagian besar laki-laki akan merasa malu untuk menceritakan masalahnya atau sekadar curhat kepada orang lain. Mereka memilih untuk memendam emosi atau mengalihkannya dengan melakukan aktivitas lain. Akibatnya, banyak laki-laki yang tidak seekspresif perempuan.

Karakter setiap manusia tentu berbeda antara satu dan yang lainnya. Tetapi dalam konsep toxic masculinity, seorang laki-laki diwajibkan memiliki karakter dominan, kuat secara fisik, tidak boleh mengekspresikan perasaan sedih secara terbuka, lihai dalam hal seksual, dan lain-lain. Padahal, tidak ada seorang pun di dunia ini yang sempurna dan pasti dari mereka memiliki kekurangannya masing-masing. Karakter seseorang juga akan berbeda antara satu dan yang lainnya berdasarkan dari beberapa faktor, terdiri dari faktor internal maupun eksternal. Faktor internal berasal dari dalam diri seseorang itu sendiri, sementara faktor eksternal seperti lingkungan keluarga sekolah dan masyarakat. Sehingga dapat dipastikan tidak semua laki-laki akan dapat memenuhi standar toxic masculinity yang ada. Akibatnya, para laki-laki yang tidak dapat memenuhi standar ala toxic masculinity seperti yang sudah disebut di atas, biasanya akan muncul anggapan bahwa mereka tidak jantan.

Dalam perkembangannya, toxic masculity turut mempermasalahkan penampilan seseorang. Orang yang berpenampilan modis dan rapi akan dianggap tidak jantan. Padahal manfaat dari berpenampilan modis cukup banyak, antara lain membuat mereka terlihat rapi, sopan, bersih, dan menghargai orang lain. Laki-laki yang rajin merawat diri juga dianggep aneh dalam konsep toxic masculinity karena dianggap menunjukkan perilaku atau sifat feminim. Sungguh aneh, sebenarnya laki-laki juga perlu rajin merawat diri untuk menjaga kesehatan kulit, menghindari munculnya jerawat, serta menjaga penampilan.

Hobi maupun kebiasaan seseorang juga dipermasalahkan dalam toxic masculinity. Seperti beberapa saat lalu sempat trending di media sosial Twitter saat Ivan Gunawan menjadi bintang tamu dalam video podcast Deddy Corbuzier. Dalam video tersebut, Ivan mengatakan bahwa ia sering melakukan olahraga squat dan cardio, yang kemudian ditanggapi oleh Deddy. Deddy menanggapi bahwa olahraga tersebut diperuntukkan bagi perempuan. Dari hal ini terlihat jelas bahwa permasalahan toxic masculinity ini mengakar dengan kuat dalam lingkungan masyarakat. Banyak hal yang sebenarnya dapat dilakukan oleh laki-laki pun perempuan. Tetapi karena pandangan dari masyarakat tentang pemisahan hobi dan kebiasaan seseorang hanya berdasarkan gender masih tertanam dengan kuat, akibatnya timbul anggapan bahwa beberapa aktivitas atau hobi ada yang identik dengan laki-laki atau identik dengan perempuan. Padahal asalkan hobi atau kebiasaan tersebut tidak merugikan orang lain dan dapat memberikan manfaat kepada dirinya sendiri, maka tidak ada masalah untuk itu.

Toxic masculinity ini dapat berdampak buruk kepada laki-laki yang tidak mampu untuk memenuhi standar yang ditetapkan pada toxic masculinity. Dikutip dari lifestylekompas, ajaran-ajaran toxic masculinity seperti laki-laki tidak boleh menangis, laki-laki harus bisa bermain sepak bola, dan lain sebagainya justru bisa membahayakan kesehatan jiwa mereka. Lebih buruk lagi, ke depannya bisa menimbulkan depresi ketika mereka tidak bisa memenuhi standar itu. Selain berdampak buruk bagi laki-laki, toxic masculinity juga merugikan perempuan. Dikarenakan laki-laki merasa mereka lebih superior dan dominan dibandingkan perempuan, mereka cenderung tidak ragu untuk melakukan kekerasan terhadap perempuan.

Menjadi orang yang yang maskulin sebenarnya bukanlah hal yang buruk, asalkan tahu batasan saat seseorang harus mengekspresikan emosinya dan menceritakan masalahnya kepada orang lain untuk menjaga kesehatan mental. Semua orang juga harus belajar untuk toleransi kepada orang lain yang memiliki perbedaan dan kekurangan tertentu termasuk jika seseorang tersebut berlawanan dengan konsep toxic masculinity. Menghapus dan menghilangkan toxic masculinity bukanlah hal yang mudah, karena pemikiran ini sudah tertanam dan menjadi kebiasaan di lingkungan masyarakat. Maka untuk mengubah hal tersebut, kita bisa mulai dari diri kita sendiri dengan menyadari bahwa diri kita tidak sempurna dan membutuhkan bantuan orang lain, belajar menerima perbedaan, serta yang paling penting adalah belajar menerima diri sendiri.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *