Oleh: Amalia Tiara G.

Ilustrasi: mujerde10.com

Beberapa tahun belakangan, Korea Selatan mulai menguasai dunia musik dengan banyaknya grup musik—selanjutnya dikenal dengan genre Korean Pop (K-pop)—yang bermunculan. Deretan girl band dan boy band asal Negeri Ginseng ini seperti BLACKPINK, Red Velvet, TWICE, (G)-IDLE, EXO, BTS, dan lainnya kian melejit di negara-negara Asia bahkan Amerika dan Eropa. Kita semua tahu bahwa selain terkenal karena musiknya yang easy listening, mereka juga terkenal karena wajahnya yang good-looking. Korea Selatan memang mempunyai standar kecantikan yang mungkin bisa dibilang tinggi.

Khusus di Korea Selatan, biasanya orang dibilang cantik kalau mempunyai kriteria bentuk wajah yang simetris, hingga hidung yang bentuknya pas dengan wajah, bentuk bibir yang kecil dan tipis, serta dagu berbentuk huruf V. Tidak lupa dengan bentuk tubuh yang kurus, kulit yang putih, dan salah satu yang paling penting adalah mempunyai lipatan mata. Bahkan banyak orang di sana yang rela menggocek uang hingga puluhan juta untuk menyempurnakan wajahnya dengan cara operasi plastik. Standar kecantikan yang tinggi ini kerap menimbulkan dampak yang buruk bagi sebagian orang di sana. Orang yang tidak merasa dirinya cantik sering kali merasa minder dan insecure, bahkan orang yang dianggap tidak memenuhi standar kecantikan mereka selalu menjadi bahan bully.

Idol Korea Selatan yang sering dipuja-puja karena kecantikan oleh masyarakat luar negeri saja kadang masih terkena omongan pedas dari netizen Korea Selatan sendiri. Contoh nyata adalah Hwasa dari girl band Mamamoo. Hwasa mempunyai kulit yang lumayan gelap dibandingkan dengan warga Korea Selatan pada umumnya. Kulitnya tanned dan badannya curvy, tidak kurus seperti idol Korea lainnya. Saat Hwasa pertama kali muncul di publik sebagai idol, Hwasa mendapatkan banyak kritikan terkait kulit dan bentuk badannya. Namun, Hwasa berhasil mematahkan standar kecantikan Korea Selatan. Dia berhasil membuktikan bahwa cantik itu nggak harus putih dan kurus. Bahkan, Hwasa juga pernah berkata, “Kalau aku nggak memenuhi standar kecantikan generasi ini, maka aku bakal membuat standar yang berbeda.” Dia juga pernah mengkampanyekan kepada penggemarnya untuk nggak terlalu memikirkan standar kecantikan di sana, karena yang terpenting adalah menjadi diri sendiri.

Masih banyak idol Korea Selatan yang juga menerima komentar pedas netizen Korea Selatan terkait penampilannya. Kyla mantan anggota girl band Pristin pernah di-bully karena badannya tidak langsing, bahkan para penggemar grup ini pun ikut menyuarakan agar Kyla tidak ikut tampil dengan Pristin. Kemudian penyanyi solo kondang Korea Selatan bernama Ailee tak luput jua mendapatkan banyak kritikan terkait badannya yang membuat ia harus melakukan diet ekstrem.

Di sisi lain, berbagai negara di dunia tengah marak melakukan gerakan feminisme, termasuk Korea Selatan. Feminisme sendiri berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah gerakan perempuan yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum perempuan dan laki-laki. Mengutip Merriam-Webster Dictionary, persamaan hak tersebut meliputi bidang politik, ekonomi, dan kehidupan sosial. Aspek penting lainnya, seperti pendidikan, industri, hukum, juga tidak ketinggalan untuk diperjuangkan para feminis. Korea Selatan sendiri merupakan negara yang kental dengan budaya patriarkinya. Beberapa tahun belakang ini, gerakan feminisme di sana kian merebak. Terus apa hubungannya antara feminisme sama beauty standards di Korea Selatan?

Nah, jadi beberapa feminis di Korea Selatan menuntut agar iklan operasi plastik di jalanan, kereta, stasiun harus dihilangkan. Obsesi orang Korea Selatan pada kecantikan memang nggak main-main. Orang dengan wajah yang sesuai dengan standar kecantikan mereka bakal lebih mudah dalam urusan karir, pertemanan, dan sebagainya. Pokoknya cantik itu adalah salah satu privilege terbesar di sana.

Sekitar tahun 2018-an, ratusan perempuan di Korea meramaikan gerakan “escape the corset” atau “bebas korset” dengan cara mengunggah potret mereka tanpa make-up, menghancurkan make-up, dan sebagainya melalui berbagai media sosial. Gerakan ini mengajak perempuan Korea Selatan untuk menentang tekanan tentang standar kecantikan mereka yang ekstrem. Dilansir dari cnnindonesia.com, gerakan ini dijuluki “bebas korset” karena make-up dianalogikan sebagai korset yang memaksa perempuan untuk memiliki tubuh ideal ala standar kecantikan Korea Selatan.

Gerakan “bebas korset” diawali oleh Lim Hyeon-Ju, seorang pembawa berita di Korea Selatan yang tampil di televisi dengan mengenakan kacamata. Penggunaan kacamata oleh pembawa berita perempuan bukanlah hal yang wajar di Korea Selatan. Sebaliknya pembawa berita laki-laki diperbolehkan menggunakan kacamata. Lim Hyeon-Ju merasa bahwa kesetaraan perlu untuk disampaikan kepada warga Korea Selatan.

Namun, gerakan “escape the corset” tidak serta merta menganjurkan perempuan untuk tidak memakai make-up. Gerakan ini justru memberikan ruang bagi para perempuan agar tetap nyaman tampil sebagai dirinya sendiri, baik dengan make-up ataupun tidak. Tidak membeda-bedakan pula baik gendut maupun kurus, baik berkulit terang maupun berkulit gelap. Karena standar kecantikan di Korea Selatan ini mengharuskan perempuan tampil sesuai apa yang dikehendaki oleh masyarakat. “Escape the corset” pun menuai banyak respon positif maupun negatif.

Eits, tapi nggak hanya Korea Selatan saja yang punya standar kecantikan, tiap negara di dunia pun mempunyai standar kecantikannya sendiri-sendiri. Meskipun standar kecantikan setiap daerah berbeda-beda karakternya, tetapi standar kecantikan yang menyakiti diri sendiri pasti selalu ada. Semua itu hanya agar bisa disebut cantik oleh orang lain. Meski begitu, jangan merasa bahwa diri kalian nggak cantik dan pantas dibenci. Jangan menyakiti diri sendiri demi memenuhi standar kecantikan orang-orang. Bahagia, menerima diri sendiri, dan berbuat baik kepada orang lain, itulah wujud kecantikan yang sebenarnya.

Comments

  1. Sebagai pemerhati dunia K-pop, aku setuju banget kalo standar kecantikan di Korea Selatan terlalu tinggi 🙂 salut bgt sm girlgroup Mamamoo, mereka membuktikan skill lebih utama daripada visual. Gak cuma di dunia K-pop, aku baca pengalaman orang di Quora, bahkan dlm hidup masyarakat biasa juga sekeras itu standarnya :’)

  2. Sebagai pemerhati dunia K-pop dankehidupan di Korea Selatqn, aku setuju banget kalau standar kecantikan di Korea Selatan terlalu tinggi. Bahkan si idol itu naik berat badan dikit aja langsung jadi nyinyiran netizen atau citizen di Korea Selatan. Salut bgt sm Mamamoo, dari awal mereka memang lebih mengutamakan skill dan terbukti bahwa skill lebih utama daripada visual.

  3. Aku setuju banget kalau standar kecantikan di Korea Selatan itu terlalu tinggi. Bahkan kalau ada idol tertentu yang naik berat badan dikit aja langsung jadi nyinyiran netizen atau citizen di Korea Selatan. Salut bgt sm Mamamoo, dari awal mereka memang lebih mengutamakan skill dan terbukti bahwa skill lebih utama daripada visual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *