Oleh: Dina Rachmatul Maula

Sumber gambar: https://www.youtube.com/channel/UCo8bcnLyZH8tBIH9V1mLgqQ

Bagaikan roda yang berputar, kehidupan manusia terkadang berada pada titik puncak dan kadang bergulir menuju titik terendahnya. Masing-masing dari diri kita tentu memiliki cara tersendiri dalam bersikap menghadapi rintangan kehidupan. Adanya rasa sedih, putus asa, dan kecewa, menandakan bahwa kita adalah manusia yang masih memiliki perasaan.

Sayangnya, masih banyak orang yang memiliki pandangan bahwa merasakan kesedihan akan membuat manusia menjadi lemah. Jatuhnya air mata pun masih kerap dianggap sebagai suatu hal yang negatif. Bahkan tak jarang orang-orang yang senang membandingkan kesedihan yang satu dengan kesedihan lainnya, menganggap kesedihan seseorang tidak seberapa dibanding dengan kesedihannya. Padahal, kesedihan bukanlah suatu objek yang patut untuk dibandingkan.

Sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial, kita membutuhkan peran diri sendiri dan orang lain untuk lebih kuat dalam menghadapi suatu masalah.  Sahabat, keluarga, atau mungkin pasangan, adalah mereka yang biasanya memberikan semangat ketika kita sedang mengarungi kesedihan. Namun, alih-alih menerima semangat yang membangun, terkadang yang kita dapatkan adalah semangat yang cenderung membuat telinga panas dan hati teriris saat mendengarnya.

Fenomena ini kerap disebut oleh kaum milenial dan generasi Z sebagai toxic positivity. Dilansir dari laman daring Universitas Surabaya, fenomena ini merupakan konsep pemikiran yang menganggap bahwa menyerap hal-hal positif adalah cara yang paling tepat dan satu-satunya untuk hidup. Dengan kata lain, kita hanya melihat kehidupan dari lensa positif saja dan harus membuang semua hal negatif, termasuk perasaan sedih. Alhasil niat memberi ucapan semangat yang bertujuan untuk mentransfer energi positif kepada penerimanya, justru berubah menjadi sebuah racun yang merusak suasana hati. 

“Semangat ya, dia aja bisa. Masa kamu gini aja nangis, sih?”

“Aku aja bisa, masa kamu nggak bisa.”

“Yuk bisa yuk!”

 “Coba deh lihat sisi positifnya, masih banyak yang lebih mengenaskan dibanding kamu.”

Ungkapan seperti diatas yang kadang tanpa disadari, jika diucapkan di waktu yang kurang tepat dapat menambah rasa kesal dalam diri pendengarnya, terlebih jika pendengar sedang berada dalam titik terendahnya. Tak hanya dari perkataan orang lain, bahkan tanpa disadari dari dalam diri sendiri juga berpotensi memberikan toxic positity melaui self-talk yang kurang berkualitas. Diantaranya seperti, “Aku harus kuat, aku nggak boleh lemah” atau “Perjuanganku belum sebanding dengan mereka, aku tidak boleh mengeluh” dan ungkapan sejenis lainnya.

Dikutip dari halodoc.com toxic positivity dapat menyebabkan seseorang merasa kebingungan dalam mengolah emosinya sendiri. Sulit menggambarkan perasaan negatif yang ada pada dirinya juga merupakan akibat dari toxic positivity. Tak hanya itu, jika perasaan negatif terus dipendam dan tak dikeluarkan, emosi negatif tersebut akan mengakibatkan stres.

Hal tersebut dikemukakan oleh Ford, Lam, John, dan Mauss, para peneliti di bidang psikologi, menyebutkan bahwa penerimaan (acceptance) akan pengalaman-pengalaman negatif justru mendukung kesehatan psikologis. Artinya, ketika kita bisa secara murni menerima perasaan negatif tanpa perlu menghakimi, justru kita dapat meraih kesehatan psikologis yang lebih baik. Menerima apa adanya, ternyata menjadi cara yang dapat membantu kita untuk menangani stres.

Maka dari itu, ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk menyebarkan hal positif tanpa disertai dengan toxic positivity. Seperti memberikan waktu kepada seseorang maupun diri sendiri untuk meluapkan emosi negatifnya, mencari waktu kala pendengar siap menerima hal positif, serta mengubah diksi dan merangkai kata yang memang sesuai dengan keadaan dan terdengar lebih manusiawi. Berikut beberapa ungkapan yang mungkin bisa digunakan kala ingin menyemangati orang terdekat yang sedang merasa sangat kacau.

Nggak apa-apa jika kamu merasa sedih. Nanti jika kamu sudah merasa lebih baik, kita mulai berjuang lagi, ya.”

“Mungkin hari ini kamu gagal. Tapi aku yakin, gagalmu adalah salah satu batu loncatan untuk meraih kesuksesan.”

“Aku sudah sangat lelah, aku butuh istirahat terlebih dahulu. Terima kasih untuk diriku sudah bekerja keras untuk hari ini.”

Bagaimana? Lebih terdengar manusiawi dan lebih menghangatkan hati bukan? Menjadi positif memanglah baik, namun di kehidupan ini tak melulu soal tersenyum atau bagaimana menjadi kuat dan selalu bahagia. Ada hal-hal negatif yang memang harus dikeluarkan tanpa dihalangi dengan kehadiran toxic positivity. Terima, pahami, beri waktu, dan rangkai kata sebaik mungkin untuk perlahan menghindari toxic positivity demi kesahatan mental kita bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *