Oleh: Sabrina Syafa Ginantia

Ilustrasi: Ryan Johnson for NPR

“Jangan baper, cuma bercanda kok.” Kalimat itu tidak lagi terdengar asing di telinga kita saat ini. Bawa perasaan atau lebih sering disebut baper biasa digunakan untuk menggambarkan situasi atau kejadian yang membuat kamu terbawa perasaan. Kata baper merupakan salah satu istilah gaul yang populer pada tahun 2014 dan 2015, bahkan hingga sekarang kata baper masih sering digunakan oleh berbagai kalangan terutama kalangan muda. Kata baper bisa merujuk pada kata sensitif, jadi orang yang baper adalah orang yang sensitif atau sangat perasa. Baper bisa diartikan sangat luas, mulai dari senang, sedih, marah, hingga kecewa. Maknanya berbeda-beda tergantung pada konteks dan situasinya.

Kebanyakan orang yang memiliki sifat baper sangat peka ketika lingkungan menjadi tidak nyaman atau perkataan orang lain menyinggung perasaannya. Beberapa ciri seseorang memiliki sifat baper adalah mudah cemas, terlalu memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak perlu dipikirkan, negative thinking, dan mudah menangis. Mempunyai mental yang kuat itu baik namun memiliki mental perasa juga bukan suatu kesalahan.

Selain merujuk pada perasaan mudah tersinggung, sering kali baper dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat asmara, misalnya baper saat seseorang yang kamu suka membuka obrolan baru lebih dulu, ketika mendapatkan pujian atau bahkan rayuan dari orang yang disuka. Memiliki sifat baper berlebih dalam situasi yang ada hubungannya dengan asmara kerap membuat rasa percaya diri meningkat jika ada sangkut pautnya dengan orang yang kita suka.

Namun, akhir-akhir ini orang-orang sering menyalahgunakan kata baper sebagai senjata. Contohnya saat seseorang sedang bercanda tetapi candaannya menyinggung perasaan orang lain. Beberapa candaan toksik sering kita jumpai di dalam lingkup pertemanan hingga media sosial, misalnya lelucon seksis, misoginis, dan body shaming.

Seksis merupakan kata dasar dari seksisme, yang mana dituliskan pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti penggunaan kata atau frasa yang meremehkan atau menghina berkenaan dengan kelompok, gender, ataupun individual. Sedangkan misoginis—masih berdasarkan KBBI—sendiri berarti orang yang membenci perempuan. Body shaming, seperti yang dilansir dari Psychology Today, merupakan suatu kecenderungan budaya untuk mempermalukan perempuan yang tidak memiliki bentuk tubuh kecil dengan lekukan—yang dianggap ideal—oleh mereka sang pelaku.

Berdasarkan cuitan UN Women Indonesia, korban lelucon seksis kerap kali dialami oleh kaum perempuan. Humor seksis tak lagi terdengar lucu karena dianggap merugikan perempuan sebagai objek lelucon. Menurut penelitian ilmiah yang dilakukan oleh Profesor Hegarty dari University of Surrey, seseorang yang terbiasa mendengar lelucon seksis akan berperilaku misoginis serta lebih beresiko terlibat kekerasan seksual. Saat ini lelucon dengan mengolok-olok bagian tubuh seseorang atau body shaming juga sering dilontarkan, seperti:

            “Muka kamu banyak jerawatnya kayak jalanan kerikil!”

            “Perut kamu buncit banget kayak pakai tas pinggang,”

            “Bau banget badannya, mandi di parit, ya?”

Ketika orang yang menjadi objek guyonan merasa tersinggung, para pelaku justru menganggap ia terlalu serius dalam menanggapi candaan. Anehnya, orang itu bukannya meminta maaf, tetapi malah menyalahkan orang yang mempunyai sifat baper sehingga orang yang tersinggung seolah-olah tidak punya hak untuk marah dan menegur. Setelah menyalahkan si objek guyonan tersebut, biasanya mereka mengeluarkan kalimat andalan untuk membela dirinya, di antaranya:

            “Baper banget, sih, cuma bercanda, kok!”

            “Jangan baper, dong, kan cuma bercanda!”

            “Lagi PMS, ya? Baper banget, sih.”

Sebagai orang dengan sifat mudah terbawa perasaan, overthinking atau berpikir yang berlebihansering kalidatang melanda dirinya. Orang baper langsung berpikir bahwa ia yang terlalu sensitif dan mudah tersinggung akan suatu hal, padahal sebetulnya memang candaannya yang keterlaluan. Semua orang berhak mengeluarkan pendapat dan pemikirannya, tetapi sebaiknya sebelum berkata lebih baik untuk dipikirkan lebih dulu agar tidak melukai perasaan orang lain. Perkataan-perkataan yang hendak diucapkan juga perlu disaring lagi supaya enak didengar.

Hidup tak melulu serius namun candaan juga harus tepat sasaran, baik tepat objeknya maupun situasinya. Memiliki sifat baperan berlebih juga tidak baik, sebab jika terlalu sensitif akan dianggap sebagai orang yang terlalu serius dan emosi menjadi tidak seimbang. Bercanda tak harus menyinggung perasaan orang, membuat orang lain tertawa tidak perlu dengan cara melukai perasaan orang lain. Jika candaanmu justru membuat orang lain tersinggung, maka itu bukan lagi sebuah candaan. Jangan malu untuk meminta maaf setelah menyinggung perasaan orang lain, malulah ketika orang lain tersinggung karena candaanmu dan kamu bilang, “Kamu baper banget!”

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *