Oleh: Kharisma Salsa Bila

Ilustrasi: David Doran NYtimes.com

Tidak ada manusia yang luput dari masalah kehidupan, walaupun dengan kondisi yang berbeda-beda. Ada saatnya kita gagal, ada saat kita sedih dan kecewa, dan ada saatnya kita tidak lagi bersemangat menjalani hidup. Dalam mengatasi masalah yang ada, beberapa di antara kita membutuhkan orang lain untuk berbagi keluh kesah, meminta pendapat atau sekadar ingin mendapatkan dukungan moral. Namun, beberapa di antara kita ada juga yang diam-diam menyimpan masalahnya sendiri tanpa melibatkan orang lain.

Dr. David Spiegel, Ketua Psikiatri dan Ilmu Perilaku di Stanford University, mengatakan bahwa berbicara dengan seseorang dapat membantu meringankan beban dan mengurangi stres. Manusia adalah makhluk sosial, sehingga berbicara dengan orang lain dapat menjadi sumber dukungan dan bantuan. Tapi, pernahkah kamu menceritakan masalahmu kepada orang lain namun tidak mendapatkan dukungan atau bantuan yang kamu cari? Atau pernahkah kamu membandingkan masalahmu dengan orang lain dan menganggap kamulah yang lebih menderita? Kalau begitu, siapa, sih yang paling menderita di antara kita semua?

Jalan hidup setiap orang pasti berbeda, begitu juga dengan masalah-masalah yang sedang dihadapi. Ada orang yang memiliki karir bagus tapi hubungan keluarganya berantakan, ada orang yang memiliki keluarga harmonis tapi bingung mencari uang untuk makan esok hari, ada juga orang yang terlihat bahagia tapi sebenarnya sedang melawan luka masa lalunya, dan masih ada sejuta masalah yang sedang dihadapi orang lain. Semua sedang berjuang menyelesaikan masalahnya masing-masing, tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk.

Seringkali ketika kita sedang bercerita mengenai permasalahan yang sedang kita hadapi, kita malah mendapatkan respon yang jauh sekali dari ekspektasi kita. Alih-alih mendapatkan dukungan, yang kita dapatkan justru tanggapan yang membuat kita semakin kesal atau bahkan sedih, seperti:

“Ya ampun, cuma segitu doang masalahmu. Liat nih aku lebih menderita dari kamu!”

“Masalahmu itu ga ada apa-apanya dibanding penderitaanku. Coba kamu rasain jadi aku!”

Ketika mencoba berbagi keluh kesah di dalam ruang obrolan, terkadang orang-orang menjadi egosentris lalu mulai berlomba menceritakan masalahnya dan menunjukan bahwa dirinya yang paling menderita. Padahal yang sedang dibutuhkan adalah bantuan atau dukungan moral, bukan perbandingan kisah sedih lainnya. Membandingkan kisah sedih orang lain dan merasa diri sendiri paling menderita bukanlah sebuah solusi. Tidak ada yang berubah dari itu semua, yang ada seperti menabur garam pada luka.

“Masalah segitu aja buat kamu pasti gampang, kamu kan sudah punya segalanya, bukan sepertiku yang serba kesulitan,” ujar seorang pendengar di salah satu ruang obrolan maya. Sebenarnya dan seharusnya, kita tidak bisa menilai beban masalah orang lain sesuai dengan perspektif kita. Hanya karena apa yang kita lihat, bukan berarti itu juga yang mereka rasakan. Bahwa kenyataannya, kita juga tidak tahu seberapa berat beban yang mereka bawa selama ini, seberapa kasar jalan yang mereka lewati, dan seberapa bergelombang laut yang mereka arungi. Menjadi pemenang dalam kisah penderitaan hidup nan menyedihkan pun bukanlah sesuatu penghargaan yang harus kita raih.

Sebagai manusia yang pasti mempunyai masalah dalam hidupnya, sepertinya kurang pantas untuk mengkerdilkan masalah orang lain. Mereka sama seperti kita, sedang berusaha menghadapi problematika hidup masing-masing. Kita yang dipercaya orang lain untuk berbagi keluh kesah, bukankah seharusnya kita menguatkan mereka dalam menghadapi masalah tersebut? Bahkan sekadar menjadi pendengar yang baik pun lebih pantas daripada harus meremehkan masalah mereka dan berlomba-lomba menjadi yang paling menderita. Hidup bukanlah sekadar siapa yang menang dan siapa yang kalah.Tidak ada masalah yang lebih baik, tidak ada juga masalah yang lebih buruk. Juga tidak ada yang menang perihal sebuah penderitaan. Aku dengan masalahku, kamu dengan masalahmu, dan dia dengan masalahnya. Semua punya porsi masalahnya masing-masing. Jika bertemu lagi di dalam ruang obrolan nanti, berhentilah membanding-bandingkan dan melabelkan diri sendiri yang paling tersiksa. Buang keegoisan untuk menang, hargai setiap masalah yang ada, berubahlah menjadi pendengar yang baik dan berikan pelukan hangat untuk saling menguatkan.

Comments

  1. Bener banget, kadang memang kita hanya butuh didengar bukan salin ngebandingin masalah masing masing. Tapi kadanh jg kita lupa klo saat kita cerita ada orang yang juga sedang dalam masalah yang sama besarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *