Oleh: Ghirindra Chandra M.

Gambar: https://tni-au.mil.id/timeline-post/omar-dani/

Nama Omar Dani mungkin asing didengar oleh kebanyakan orang zaman sekarang. Omar adalah panglima yang terkenal sangat Soekarnois, yang berarti pengagum Presiden Soekarno. Dani lahir di Kota Solo, 23 Januari 1924 dan merupakan putra dari KRT Reksonegoro, Asisten Wedana Gondangwinangun, Klaten. Dari darah ibunya mengalir pula darah Sunan Pakubuwono IX. Karena statusnya sebagai putra seorang “priyayi” itulah yang membuatnya mendapat kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Ia sempat bersekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS) Klaten, Jawa Tengah pada tahun 193, Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Kristen Solo di tahun 1940, kemudian pada 1942 Omar masuk Algemeene Middlebare School (AMS) B di Yogyakarta.

Menyelesaikan studi semasa awal kemerdekaan Indonesia, Omar muda menjadi penyiar RRI Tawangmangu. Sebelumnya lokasi penyiaran berada di RRI Yogyakarta, akan tetapi RRI Yogyakarta dibom oleh tentara sekutu. Omar juga sempat melanglang buana mencicipi berbagai pekerjaan mulai dari menjadi informan bagi Markas Besar Tentara tanpa digaji, pegawai bagian penerangan luar negeri di Kementerian Penerangan, hingga berjualan obat. Omar pun sempat menjadi pegawai De Javasche Bank.

Pada tahun 1950, usianya telah mencapai ke-26. Omar kala itu melihat tantangan lebih besar datang dan memutuskan untuk mendaftar pendidikan navigator atau penerbang di Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Setelah itu pada bulan November di tahun yang sama, Omar menjadi bagian dari 60 penerbang kadet yang dikirim untuk menempuh pendidikan di Academy of Aeronautics, Trans Ocean Airline Oakland Airport (TALOA) California, Amerika serikat.

Setahun kemudian, Omar menyelesaikan pendidikannya dan kembali ke Indonesia. Pada akhir Juli 1952, Omar dilantik sebagai Letnan Muda Udara I (sekarang disebut Pembantu Letnan I). Ia ditugaskan menjadi co-pilot dakota di Pangkalan Udara Cililitan (sekarang Landasan Udara Halim Perdanakusuma).

Karir Omar di AURI begitu cemerlang kala itu. Menginjak tahun 1956, ia menjadi lulusan terbaik Royal Air Force Staff College di Andover, Inggris, mengikuti jejak pendahulnya di AURI, yaitu Abdul Halim Perdanakusuma. Puncaknya adalah pada 19 Agustus 1962, Omar berdiri di depan Soekarno yang menjabat sebagai presiden pertama di Indonesia saat itu. “Mulai saat ini kamu yang bertanggung jawab atas AURI. Ada pertanyaan?” Setidaknya itulah yang diucapkan Presiden Soekarno di Istana Merdeka seperti yang dikutip dari tulisan Benedict A., dkk. pada biografi berjudul Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku: Pledoi Omar Dani. Mulai hari itu, ia menggantikan Laksamana Soerjadi Soerjadarma, yang saat ini dikenal sebagai Bapak Angkatan Udara, sebagai Menteri/Panglima Angkatan Udara. Itu artinya ia mencapai pucuk pimpinan AURI hanya dalam waktu 9,5 tahun semenjak ia disumpah sebagai prajurit.

Layaknya Soerjadi, Omar juga merupakan pengagum Bung Karno. Di bawah komandonya, AURI selalu mendukung keputusan Bung Karno. Ia pernah mengatakan ingin menjadikan semua orang di AURI menjadi Kleine Soekarnotjes ‘Soekarno-Soekarno Kecil’. Bung Karno pun menujuk panglima muda itu menjadi Komandan Komando Mandala Siaga (Kolaga) dalam konfrontasi Ganyang Malaysia. Dalam sebuah kesempatan, Bung Karno menegaskan bahwa AURI merupakan anak lanang-nya, yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti anak lelakinya, karena sangat sepenuh hati mendukung langkah Bung Karno.

Gambar: historia.id

Dalam 1.409 hari masa kepemimpinannya, AURI merupakan kekuatan tak tertandingi di bumi bagian selatan. Menurut laporan Victor M. Vic dalam Kudeta 1 Oktober 1965, pada masa itu Indonesia mendapat pasokan pesawat Uni Soviet meliputi 60 pesawat pemburu MiG-15 dan MiG-17, 40 pesawat pembom jenis Ilyushin Il-20, pembom jarak jauh Tupolev TU-16, dan ditambah beberapa MiG-20. Diperkirakan Indonesia menerima sekitar 200 pesawat dari Soviet dan sekutunya. Mesin-mesin termutakhir pada masanya membuat kekuatan pertahanan udara Indonesia merajai Benua Asia.

Namun sungguh sayang, romantisme itu buyar setelah peristiwa Gerakan 30 September (G30S). AURI dituduh terlibat dan mendukung gerakan tersebut. Tuduhan itu didasari oleh daerah Lubang Buaya yang saat itu disebut merupakan daerah AURI, ditambah lagi surat pernyataan Omar setelah mendengar siaran RRI pagi 1 Oktober 1965. Hal tersebut dianggap Bung Karno te voor barig ‘terlalu tergesa-gesa’, sehingga menjadi dasar kelompok Mayor Jenderal Soeharto untuk menuduh keterlibatan Omar pada peristiwa itu. Terlebih lagi, senapan jenis cung milik AURI ditemukan pula di Lubang Buaya.

Puncak dari rentetan kejadian tersebut bermuara pada 24 November 1965. Saat itu adalah malam suci bagi umat Nasrani dan bertepatan jua dengan bulan suci umat Muslim yang tengah menjalankan ibadah puasa. Kala itu Sang Laksamana Madya berdiri tegap mendengar vonis pidana mati yang dibacakan hakim Mahkamah Militer Luar Biasa. “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!” Hanya terdengar lolongan kepada Sang Pencipta yang bersumber dari suara Omar.

Selama masa Orde Baru, Omar menghabiskan sebagian besar hidupnya di bui. Runtuh juga kekuatan AURI seiring dengan semua pesawat dari Uni Soviet yang di-grounded. Setiap malam, Omar menguatkan hatinya apabila suatu saat di tengah lelapnya terdengar ketukan pintu yang kemudian menggiringnya ke meja eksekusi. Hal itu dituturkan Mochtar Lubis, Pimpinan Redaksi surat kabar Indonesia Raya, yang berkawan dengannya kala di tahanan. “Agar Tuhan menguatkan hati saya, jika di tengah malam pintu diketuk dan saya dibangunkan ke tempat penembakan mati,” begitulah doa Omar sembari “menunggu” ajalnya dijemput oleh regu penembak. Pada rezim ini pula, fotonya tak pernah terpampang dalam jajaran sejarah Kepala Staf Angkatan Udara. Namanya seolah benar-benar terlupakan.

Bertahun-tahun luput dari moncong senjata, pada 14 Desember 1982 Omar mendapat grasi. Pidana mati yang dijatuhkan kepadanya diganti dengan pidana penjara seumur hidup. Hingga akhirnya, setelah mendekam selama 29 tahun 4 bulan, ia dinyatakan bebas pada 16 Agustus 1995 dikarenakan faktor usia. Omar mangkat pada 24 Juli 2009. Pemakaman Omar dilangsungkan tanpa adanya upacara militer, mengingat seluruh gelar dan tanda jasanya dicabut. Demikian juga kegemilangan AURI yang turut terkubur bersama jasadnya.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *