Oleh: Endri Rahmawati

Foto: republika.co.id

Ki Hajar Dewantara lahir dari keluarga Kadipaten Pakualam, Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1998 dengan nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat. Ia adalah putra dari GPH Soerjaningrat dan cucu Pakualam III. Ki Hadjar Dewantara adalah salah satu aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, politisi, dan juga pelopor pendidikan di Indonesia di masa penjajahan Belanda. Beliau mendirikan Taman Siswa pada tanggal 3 Juli 1992, yaitu suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi pribumi untuk mendapatkan pendidikan.

Ki Hadjar Dewantara menempuh pendidikan dasar di Europeesche Lagere School (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Kemudian melanjutkan pendidikannya ke School Tot Opleiding Van Inlansche Artsen atau disingkat STOVIA, yaitu sekolah kedokteran yang diperuntukkan bagi pribumi. Akan tetapi karena sakit, ia tidak dapat menyelesaikan pendidikannya di STOVIA. Ia melanjutkan karirnya untuk bekerja sebagai wartawan di beberapa surat kabar, seperti Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, Oetoesan Hindia, Sediotomo, Midden Java, De Express, dan Poesara.

Selain gigih dalam menjadi wartawan, Ki Hadjar Dewantara juga dikenal aktif dalam organisasi sosial dan politik, yaitu Boedi Oetomo. Selain itu, ia juga aktif melakukan propaganda untuk sosialisasi dan membangun kesadaran rakyat Indonesia khususnya Jawa mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan. Ki Hadjar Dewantara juga aktif di Insulinde, organisasi multietnis yang bertujuan menginginkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda.

Pada tahun 1913 Ki Hadjar Dewantara menulis “Een voor Allen maar Ook Allen voor Een” atau “Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga”. Tetapi tulisannya yang paling terkenal adalah “Als ik een Nederlander was” atau “Seandainya Aku Seorang Belanda” yang dimuat dalam surat kabar De Express tanggal 13 Juli 1913. Isi dari tulisan tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.

Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya.

Artikel “Als ik een Nederlander was” didengar oleh pihak Belanda yang menyebabkan Ki Hadjar Dewantara dan kedua temannya, Ernest Douwes Dekker dan Dr. Tjipto Mangunkusumo, yang dikenal dengan sebutan Tiga Serangkai diasingkan ke Belanda. Berada di pengasingan, ia ikut dalam Perhimpunan Hindia dan juga mendirikan Indonesisch Pers-bureau atau kantor berita Indonesia.

Pada saat kembali ke Indonesia di tahun 1919, karena memiliki pengalaman mengajar,  Ki Hadjar Dewantara akhirnya mendirikan Perguruan Tinggi Taman Siswa, tepatnya pada tanggal 3 Juli 1922. Perguruan Tinggi Taman Siswa bergerak di bidang pendidikan yang ditujukan untuk kaum pribumi. Taman Siswa memiliki semboyan yang berbunyi ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani yang dalam bahasa Indonesiaberartidi depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan. Semboyan ini juga masih digunakan dalam dunia pendidikan hingga saat ini.

Saat usia Ki Hadjar Dewantara menginjak 40 tahun, ia resmi mengganti namanya dari Raden Mas Suwardi Suryaningrat menjadi Ki Hadjar Dewantara dan tidak lagi menggunakan gelar bangsawan di depan namanya. Setelah Indonesia merdeka, Ki Hadjar Dewantara menjabat sebagai Menteri Pengajaran Indonesia yang pertama dengan masa jabatan yang terhitung sangat sebentar, yaitu dimulai sejak 2 September 1945 – 14 November 1945.

Ki Hadjar Dewantara meninggal pada tanggal 25 April 1959 saat usianya memasuki angka 69 di Yogyakarta. Kemudian pada tanggal 28 November 1959, Ki Hadjar Dewantara dikukuhkan sebagai pahlawan nasional ke-2 oleh Presiden Soekarno. Selain itu ia juga dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Oleh karena jasanya di bidang pendidikan, sekarang setiap tahun tanggal lahirnya, 2 Mei, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *