Oleh: Nur Alifi W.

Friedrich Wilhelm Nietzsche adalah seorang penyair sekaligus filsuf Jerman yang lahir pada tanggal 15 Oktober 1844. Nietzsche terlahir di keluarga yang taat terhadap agama, ayahnya adalah seorang pastor, sedangkan kakek dan kakek buyutnya juga berprofesi sebagai pendeta. Meski begitu, semasa hidup hingga meninggalnya, Nietzsche terkenal dengan sebutan “Si Pembunuh Tuhan” dan “Atheis Gila”. Ia dikenal dengan sebutan tersebut sebab di salah satu kutipan dalam bukunya yang berjudul Also sprach Zarathustra, dia menyebut bahwa Tuhan sudah mati. Ia juga sering dikenal sebagai seorang filsuf yang kontroversial, tak jarang pula namanya disejajarkan dengan tokoh seperti Machiavelli dan Darwin.

Gaya tulisan Nietzsche penuh dengan aforisme dan seringnya berisi tentang pandangannya yang sinis terhadap kehidupan. Mengutip dari rumahfilsafat.com, aforisme sendiri adalah sebuah gaya penulisan dengan kalimat-kalimat pendek yang seolah tanpa hubungan satu sama lain untuk menjabarkan pemikirannya. Gaya aforisme ala Nietzsche yang hanya berupa potongan-potongan ini membuat tulisannya sulit dipahami. Namun begitulah Nietzsche, ia tidak ingin dipahami oleh siapa pun. Sehingga tulisannya hanyalah sepotong cerita dan ide yang semakin dicari artinya semakin membentuk sebuah labirin yang menyesatkan dan membingungkan.

Sang pembunuh Tuhan ini membenci orang-orang yang mempercayai sesuatu, apa pun itu, bahkan kepercayaan kepada ketidakpercayaan. Semua tentang Nietzsche serba mengambang, namun begitu memikat dan mengejutkan.

Semasa hidupnya, Nietzsche tidak pernah merasakan manisnya kehidupan pernikahan. Meski begitu, ada satu perempuan yang dicintainya. Ia bernama Andreas Salomé. Namun perasaannya tak disambut baik oleh perempuan tersebut. Falling in love with people we can’t have gitu lah. Hal ini yang membuat Nietzsche memutuskan untuk hidup sendirian tanpa menikah hingga hembusan napas terakhirnya. Ia memilih menjadi pribadi yang individualis dengan bertahan menjadi kuat tanpa pretensi dari luar. “Permintaan agar dicintai adalah jenis arogansi yang paling besar,” ujarnya.

Bagi Nietzsche, jatuh cinta hanyalah menjadikan kita seperti orang lain, menjauhkan kita dari orisinalitas diri sendiri. Jatuh cinta memang memabukkan, tapi patah hati lebih-lebih lagi, kalau kata selebgram jaman sekarang, “Rasanya kaya mau meninggal, hahaha.” Namun, perihal patah hati hanyalah permasalahan kecil yang membentuk Nietzsche menjadi manusia penuh sinisme. Akibat patah hatinya yang terdahulu, Nietzsche memutuskan untuk tidak jatuh cinta lagi. Mungkin ia berpikir satu perempuan sudah cukup untuk ditulis menjadi seribu puisi.

Selain gagal dalam membina kisah cinta, Nietzsche juga pernah gagal membina pertemanan dengan Richard Wagner, salah seorang musikus dan komposer Jerman, karena adanya perbedaan pendapat. Ditambah dengan penyakitnya, yaitu penyakit kelamin, yang sering kambuh membuat Nietzsche harus tinggal dengan menyesuaikan iklim yang cocok dengan tubuhnya. Hal inilah yang berhasil memporak-porandakan gagasan hidup bahagia yang mungkin dimilikinya semasa kecil. Penyakit dan keputusasaan ini pada akhirnya membuat Nietzsche memilih tinggal menyendiri di Sils-Maria dengan berteman lembah-lembah pegunungan.

“Burung-burung gagak berteriak

Dan terbang ke kota dengan mengumbang:

Salju akan turun segera

Celakalah dia yang tak berkampung halaman!”

Nietzsche merupakan seorang penyair yang jujur. Puisi-puisinya tidaklah menggambarkan kehidupan yang bahagia, lebih sering memperlihatkan sisi hidup yang penuh dengan getir, sedih, sepi, dan ketidakadilan. Tulisannya menceritakan banyak hal, mulai dari kehidupan, agama, politik, dan seringkali tentang perempuan.

Di tahun 1869, Nietzsche diangkat sebagai profesor di Universitas Basel, Swiss dan mendapatkan gelar doktornya tanpa ujian. Namun sayang, karena kondisi kesehatannya yang kian memburuk, Nietzsche mengundurkan diri di tahun 1879. Setelah berhenti mengajar, Nietzsche menyibukkan dirinya dengan berkeliling Italia, Perancis, dan Swiss serta menulis buku-buku.

Nietzsche meninggal karena penyakit kelamin yang dideritanya pada tahun 1900 di Weimar. Penyakit ini disebabkan karena kebiasannya yang sering bermain perempuan. Nietzsche juga mengalami depresi dan penurunan mental kala itu. Selama itu pula, Nietzsche dirawat oleh sang kakak hingga akhir hayatnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *