Oleh: Maghfiroh Wachidatun N.

Ilustrasi: tirto.id/Sabit

Siapa sih, yang tidak kenal dengan sosok BJ Habibie? Prof. Dr. (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang akrab dipanggil BJ Habibie, presiden ke-3 Republik Indonesia, lahir pada 11 September 1936. Bukan hanya terkenal di Indonesia saja, BJ Habibie juga terkenal sampai kalangan mancanegara dengan sebutan “Mr. Crack” berkat rumus-rumus temuannya.BJ Habibie semasa muda dipanggil dengan sebutan Rudy Habibie. Ia merupakan anak keempat dari delapan bersaudara. Habibie pernah mengenyam pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB), kemudian Habibie mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Jerman dan ia berhasil lulus dengan predikat cumlaude. Lima tahun kemudian, Habibie kembali meraih gelar doktor dengan predikat summa cumlaude dari RWTH Aachen University, Jerman.

Fokus BJ Habibie adalah di bidang penerbangan. Jasanya di bidang penerbangan nasional dan internasional pantas diacungi jempol. Bahkan Habibie beberapa kali mendapatkan penghargaan internasional, salah satunya “Das Grosse Verdenskreuz Mit Stern und Schulterband” dan “Das Grosse Verdienstkreuz”. Dua penghargaan tersebut diberikan Jerman sebagai pengakuan atas jasa-jasa Habibie kepada pemerintahan Jerman. Selain berkutat di bidang penerbangan dan teknologi, BJ Habibie juga terjun ke dunia politik. Sepak terjangnya di dunia politik dimulai ketika ia menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi pada tahun 1978-1998. Selanjutnya pada tahun 1998, BJ Habibie menempati posisi sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia mendampingi Soeharto. Setelah Soeharto lengser, BJ Habibie menempati posisi sebagai Presiden Indonesia ke-3. Masa jabatan presiden yang dimiliki BJ Habibie terhitung singkat, yaitu hanya dalam kisaran waktu 1 tahun 5 bulan saja. Meski begitu, peninggalan BJ Habibie memiliki pengaruh besar bagi Indonesia.

Beban yang ditanggung oleh BJ Habibie selepas Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya terbilang cukup berat. Kurang lebih ada lima isu besar yang menunggu untuk dituntaskan. Lima isu tersebut antara lain adalah reformasi, masa depan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, menyelesaikan pergolakan di daerah yang ingin lepas dari RI, pengadilan Soeharto, dan pengentasan Indonesia dari krisis ekonomi. Dengan waktu jabatan yang terbilang singkat, Habibie berhasil mengatasi hal tersebut dan membuat sejumlah kebijakan yang visioner bagi Indonesia.

Sejumlah kebijakan penting telah dibuat oleh BJ Habibie salah satunya yaitu pengesahan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang menjamin kebebasan pers. Habibie juga memberikan masyarakat kebebasan untuk berserikat dan berkumpul melalui pencabutan larangan Pendidikan Serikat Buruh Independen dengan meratifikasi Konvensi International Labour Organization Nomor 87. Tidak hanya itu, salah satu kebijakan krusial Habibie adalah penghapusan istilah “pribumi” dan “non-pribumi” melalui Instruksi Presiden Nomor 26 Tahun 1998 dan penghapusan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia melalui Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 1999. Kedua kebijakan itu sedikit benyak telah membuat warga etnis Tionghoa di Indonesia dapat bernapas lebih lega setelah menerima berbagai intimidasi, bahkan sasaran kebencian dan kekerasan selama masa Orde Baru.

Selain terkenal akan kecerdasan di atas rata-rata, Habibie pun memiliki kisah cinta yang terpatri dalam sejarah. Sudah bukan rahasia umum lagi jika Habibie sangat mencintai istrinya, Hasri Ainun. Akrab disapa Ainun, ia merupakan teman sebaya Habibie kala menduduki bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Keduanya sama-sama memiliki pemikiran cemerlang sehingga sering mendapat predikat terbaik di kelas masing-masing.

Habibie remaja kerap menyebut Ainun sebagai “gula jawa” dikarenakan kulit Ainun yang berwarna sedikit gelap. Beberapa tahun kemudian selepas meninggalkan bangku SMA, keduanya akhirnya bertemu kembali. Habibie begitu terkejut saat bertatap muka dengan Ainun yang telah beranjak dewasa. Ainun yang dahulu Habibie juluki “gula jawa”, kini dipujinya sebagai “gula pasir”.

Lambat laun setelah pertemuan mereka kembali, Habibie merasa Ainun memiliki ketertarikan yang sama dengannya dalam hal memajukan Indonesia. Dari situlah ia merasa cocok dengan Ainun. Maka menikahlah mereka di Bandung pada tanggal 12 Mei 1962. Sebulan setelahnya, mereka terbang ke Jerman. Kehidupan rumah tangga Habibie dan Ainun juga tidak kalah romantis, terutama masa tiga tahun pertama pernikahan mereka. Seiring kehidupan pernikahan, mereka lantas dikaruniai dua buah hati.

Ikatan cinta mereka bertahan hingga keduanya merenta. Ainun mangkat terlebih dahulu setelah sempat menjalani perawatan dan operasi di Jerman pada 22 Mei 2010. Tubuh Ainun tak mampu lagi melawan tumor yang menyerangnya. Habibie yang begitu terpukul pun begitu setia dengan Ainun dan kerap mendatangi Ainun di peristirahatan terakhirnya. Hingga kisah cinta mereka pun diangkat ke layar lebar dalam beberapa versi. Sembilan tahun kemudian saat usia Habibie menginjak ke-83, ia menyusul Ainun di alam keabadian, tepatnya pada 11 September 2019. Jasa Habibie untuk Indonesia dan kisah cinta Habibie untuk Ainun terus dikenang oleh rakyat Indonesia hingga sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *