Oleh : Nikita Ananda Beatrix

Sumber gambar : Affandi.org

Affandi Koesoema adalah maestro seni Indonesia yang memiliki lebih dari 2.000 karya dengan nama yang mendunia, selain itu ia adalah salah satu seorang seniman berjasa yang menjadi pionir seni lukis modern di Indonesia. Lahir di Cirebon pada 18 Mei 1907, ayahnya adalah Raden Koesoema seorang pekerja di pabrik gula Ciledug. Pada tahun 1933 dia menikahi Maryati seorang gadis kelahiran Bogor dan dikaruniai putri yang berbakat dalam melukis bernama Kartika Affandi.

Karya-karya Affandi banyak bertema kemanusiaan (humanisme), yang mana menjadi tema yang sering diangkat dalam dunia seni rupa Indonesia. Dengan gaya melukisnya yang khas tidak heran namanya naik baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Karyanya dikategorikan menganut aliran ekspresionisme dan dalam awal karir dia menganut aliran realisme yang sedikit dipengaruhi romantisisme. Dalam berkarya, dia mengambil nilai-nilai dari pengalaman langsung, salah satunya persoalan kemiskinan yang diderita masyarakat karena situasi zaman perang hingga didapatnya kemerdekaan, karyanya ini adalah “Dia Datang, Menunggu, lalu Pergi” yang dilukis pada tahun 1944.

Karena latar belakang Affandi yang sejak kecil hidup dalam kemiskinan, ia tumbuh menjadi orang yang sederhana bahkan setelah memiliki nama yang besar dia tetap rendah hati dan menyebut dirinya hanyalah tukang gambar. Sebagai seorang pribumi Affandi berkesempatan untuk belajar dengan sistem kolonial Belanda walau hanya sampai AMS (Algemene Middelbare School) atau setara dengan 1 SMA, yang mana di zaman itu tidak banyak anak bisa merasakan bangku sekolah. Sebelum menjadi pelukis yang memiliki nama besar, Affandi adalah seorang tukang sobek karcis, pembuat iklan, dan pernah berkarir sebagai guru.

Dalam memulai karir melukis dia bergabung dalam dengan kelompok seniman Lima Bandung pada tahun 1930-an, yang beranggotakan lima orang pelukis Bandung.Mereka adalah Affandi, Barli, Hendra Gunawan, Sudarso, dan Wahdi yang mana memiliki pengaruh besar dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Berbeda dengan Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia, kelompok seniman Affandi berfokus pada kegiatan melukis dan belajar bersama untuk kalangan pelukis tidak formal. Affandi membuka pameran tunggal pada 1943 di Gedung Poetra Jakarta pada masa pendudukan Jepang di Indonesia. Namun, pameran ini bukan hanya didominasi oleh Affandi karena banyak tokoh proklamasi Indonesia baik Soekarno, Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Kyai Haji Mas Mansoer mengambil bagian dalam pameran itu.  

Dalam berpendidikan Affandi mendapat beasiswa Santiniketan di India karena bakatnya  yang mendapat perhatian dunia. Awalnya beasiswa itu dia terima, namun akhirnya ia tolak sesampainya di India karena merasa tidak memerlukan pelatihan melukis lagi. Selama dia India dia menggelar pameran dan mengadakan perjalanan keliling India, serta tinggal disana untuk melukis. Selain berkeliling di India, dia juga mengadakan pameran keliling di negara-negara Eropa.

Dengan perjuangannya yang besar dalam dunia seni dia bisa mendapat banyak prestasi,  yaitu bisa menjadi perwakilan Indonesia dalam pameran Internasional di Brazil dan Venezia, mendapat tawaran program residensial dari Amerika Serikat untuk belajar mengenai metode pendidikan seni, menggelar pameran tunggal di World House Gallery, New York, mendapat gelar guru besar kehormatan dari Ohio State University, dan menerima anugerah seni dan medali emas dari Mendikbud RI. Affandi diangkat menjadi anggota kehormatan seumur hidup di Akademi Jakarta, dan dipilih menjadi ketua IAPA (International Art Plastic Association) yaitu badan seni di bawah UNESCO. Pada tahun 1974 Affandi menerima gelar kehormatan Doctor Honoris Causa dari Universitas Singapura. Namun, selain prestasi dia pernah menuai kontroversi pada masa Orde Baru karena keterlibatannya dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat.

Pada akhir tahun 1980-an, Affandi mengalami gangguan kesehatan sehingga dia menggunakan kursi roda. Namun, dia masih bisa berkarya dengan melukis potret diri yang dihadiahkan kepada Pemerintah RI dan dia juga mendapat penghargaan dari Badan Kesenian Nasional Indonesia yang diberikan langsung di Istana Negara Secara Langsung oleh Presiden Soeharto. Affandi meninggal dunia pada 23 Mei 1990 sebelumnya dia membuat lukisan dengan dibubuhi tulisan “1987, Mati” yang banyak ditafsirkan berhubungan dengan kondisi kesehatannya. Setelah meninggal Affandi masih meninggalkan karya-karya yang luar biasa yang dapat dinikmati di Museum Affandi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *