Oleh: Septiawan Rizki A.

Sumber gambar: habkorea.net

Beberapa tahun belakangan ini banyak masyarakat Indonesia yang tertarik belajar bahasa Korea. Salah satu faktornya disebabkan karena musik atau yang biasa dikenal dengan K-Pop dan juga drama korea yang sedang booming dan digemari oleh banyak masyarakat Indonesia. Selain itu, hubungan bilateral antara Korea Selatan dan Indonesia yang semakin erat juga menjadi salah satu pendorong masyarakat Indonesia untuk belajar bahasa Korea yang identik dengan huruf Hangeul. Tapi, apakah kalian tahu bagaimana sejarah terciptanya huruf Hangeul dan siapa yang menciptakan huruf tersebut?

Hangeul (한글; dibaca [ˈhɑːŋɡʊl]) adalah alfabet yang digunakan untuk menulis bahasa Korea. Hangeul diciptakan pada tahun 1443 oleh Raja Sejong Yang Agung, yang mana merupakan raja keempat di Dinasti Joseon. Pada zaman Dinasti Joseon sebelum adanya Hangeul, bahasa Korea tidak mempunyai huruf. Orang-orang Korea terpelajar menuliskan bahasa mereka menggunakan huruf Cina kuno yang bernama Hanja. Hanja ini termasuk logograf atau ideograf, yang mana tiap hurufnya melambangkan suatu kata atau morfem. Sehingga jika ingin fasih dalam membaca dan menulis Hanja, maka rakyat Korea harus menghafal banyak sekali bentuk huruf.

Namun, saat itu hanya keluarga kerajaan dan bangsawan saja yang mempunyai akses untuk belajar huruf Hanja. Hal ini menyebabkan banyak masyarakat biasa yang masih mengalami buta huruf. Ketika masyarakat nonbangsawan ingin menyampaikan keluhannya, mereka tidak bisa mengajukannya kecuali secara lisan. Masalah ini membuat Raja Sejong, yang terkenal selalu mendengarkan perintah rakyat jelata merasa bingung. Oleh karena itu, pada pertengahan abad ke-15, tepatnya pada tahun 1443, Raja Sejong tergerak hatinya menciptakan huruf yang mudah dipelajari. Dibantu oleh beberapa cendekiawan pada masa itu, Raja Sejong bereksperimen untuk membuat sistem penulisan khas Korea.

Tiga tahun setelahnya, Hangeul untuk pertama kalinya digunakan pada tahun 1446 dengan tujuan agar meningkatkan literasi di kalangan masyarakat umum yang kesulitan mempelajari huruf Hanja. Pada masa itu, aksara baru tersebut banyak disebarkan melalui lagu anak-anak, sehingga mudah untuk dimengerti oleh anak-anak dan golongan bawah yang tidak berpendidikan.

Pada awal penyusunannya, Hangeul berjumlah 28 karakter yang terdiri dari 17 huruf konsonan dan 11 huruf vokal. Huruf vokal ini berasal dari tiga komponen dasar kehidupan yang dalam bahasa Indonesia berarti surga [ᄋ], bumi [ㅡ], dan manusia [ㅣ]. Seiring berjalannya waktu, Hangeul bertambah menjadi 40 karakter, yaitu terdiri dari 21 huruf vokal dan 19 huruf konsonan.

Sumber gambar: belajarbahasakoreayuk.wordpress.com

Sekilas penampakan Hangeul terlihat seperti tulisan ideografik atau tulisan dalam bentuk simbol seperti pada aksara Cina. Namun, sebenarnya Hangeul merupakan abjad fonetik atau alfabet. Hal ini dikarenakan setiap hurufnya merupakan lambang huruf konsonan dan vokal yang berbeda. Bahasanya pun dianggap sangat logis dan fonetik sehingga ahli bahasa di seluruh dunia menganggapnya sebagai salah satu sistem penulisan yang paling luar biasa di dunia.

Kisah di balik penciptaan Hangeul pun dijelaskan dalam naskah Hunminjeongum (훈민정음해례; dibaca [Hunminjeongum Haerye]). Naskah tersebut tercatat dalam UNESCO pada tahun 1997. Dalam naskah tersebut dijelaskan mengenai alfabet Korea, tentang bagaimana komentar soal Hangeul sampai bagaimana setiap hurufnya dirancang.

Sejarah terciptanya Hangeul ini pun diperingati oleh masyarakat Korea setiap tanggal 9 Oktober di setiap tahunnya. Peringatan yang akrab disebut dengan Hangeul Day ini merupakan bentuk penghormatan seuluruh masyarakat Korea kepada Raja Sejong atas jasanya dalam menciptakan Hangeul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *