Oleh: Sigit Dwi Nugroho

Sumber gambar: https://tumpi.id/solo-tempo-dulu-dan-sekarang/

Kota Surakarta atau yang juga dikenal dengan nama Kota Solo merupakan kota terbesar kedua di Provinsi Jawa Tengah setelah Kota Semarang. Solo memiliki pesona tersendiri yang dapat dirasakan oleh setiap orang yang berkunjung ke sana. Mulai dari adanya Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran yang telah ada sejak era Kesultanan Mataram, sampai adanya kerajinan batik yang telah menjadi warisan budaya dunia. Selain itu, ada banyak juga destinasi yang bisa dikunjungi untuk berbelanja di Solo, seperti Pasar Gede, Pasar Triwindu, dan Pasar Klewer.

 

Perbedaan Nama Solo dan Surakarta

Sering kali, masyarakat menyebut kota ini dengan dua sebutan. Ada yang menamainya Kota Solo, adapun yang menyebutnya Kota Surakarta. Kata Solo berasal dari kata Sala yang merupakan sebuah desa di pinggir sungai Bengawan Solo. Dilansir dari uns.ac.id, Prof. Warto, seorang sejarawan yang juga Guru Besar Bidang Ilmu Sejarah Universitas Sebelas Maret (UNS), menjelaskan bahwa Sala adalah sebuah desa yang ditempati untuk Keraton Surakarta Hadiningrat dengan penguasanya Pakubuwana. Adapun penyebutan Sala berubah menjadi Solo dikarenakan orang-orang Belanda yang sulit untuk menyebutkan kata Sala, sehingga berubah menjadi Solo. Nama inilah yang akhirnya menjadi penyebutan populer atau umum di masyarakat.

Sementara itu, Surakarta merupakan nama kerajaan yang sama dengan Keraton Kartosuro setelah pindah ke Desa Sala. Seiring perjalanan waktu, Surakarta yang merupakan nama dari sebuah keraton ditetapkan menjadi nama resmi kota secara administratif. Sehingga untuk nama resmi, penulisan yang benar adalah Kota Surakarta.

 

Sejarah Berdirinya Kota Solo

Pada abad ke-18, Keraton Kartasura yang merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Mataram Islam hancur luluh lantak akibat peristiwa Geger Pecinan. Hal ini membuat Sri Susuhunan Pakubuwana II menunjuk beberapa orang diantaranya Tumenggung Honggowoso, Adipati Sindurejo, Adipati Pringgoloyo, Tumenggung Mangkuyudo, dan Tumenggung Pusponegoro untuk mencari tempat baru sebagai pusat pemerintahan. Kemudian diadakanlah pengembaraan ke berbagai tempat, akhirnya terdapat tiga desa yang akan menjadi pilihan, yaitu Desa Sala, Desa Kadipolo, dan Desa Sana Sewu.

Setelah dilakukan perundingan, Desa Sala terpilih menjadi pusat pemerintahan yang baru karena letaknya di tepi sungai yang nantinya disebut Bengawan Solo. Tempat baru ini hanya 10 km sebelah timur dari Kartasura. Alasan dinamakan sebagai Desa Sala yaitu karena daerah tersebut dahulu banyak ditumbuhi tanaman sala yang sejenis dengan pohon pinus, seperti yang tertulis dalam serat Babad Sengkala. Peristiwa perpindahan pusat pemerintahan terjadi pada tanggal 17 Februari 1745, tanggal inilah yang selanjutnya dijadikan sebagai hari lahir Kota Solo.

Sesudah pemindahan pusat pemerintahan ke Sala dan berganti nama menjadi Keraton Surakarta Hadiningrat, tak lama kemudian terjadilah perang saudara. Ada tiga tokoh utama dalam perang saudara ini, yaitu Sri Susuhunan Pakubuwono II, Pangeran Mangkubumi, dan Raden Mas Said alias Pangeran Sambernyawa. Masing-masing dari mereka meminta tahta untuk menjadi pewaris Kesultanan Mataram Islam.

Puncak dari konflik tersebut adalah Perjanjian Giyanti yang terjadi pada tanggal 13 Februari 1755. Perjanjian ini merupakan bentuk keberhasilan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) milik Belanda, untuk memecah belah dan menyebabkan pertikaian internal di keluarga Kesultanan Mataram Islam. Salah satu isi perjanjian tersebut adalah Kesultanan Mataram Islam yang dibagi menjadi dua wilayah. Wilayah pertama dikuasai Pakubuwono II dan diberi nama Kasunanan Surakarta. Sementara wilayah kedua dipimpin Pangeran Mangkubumi yang berkedudukan di Kesultanan Yogyakarta dan bergelar Sultan Hamengkubuwono I.

Setelah itu, Kasunanan Surakarta memberikan sebagian daerahnya kepada keponakannya yakni Raden Mas Saidkota. Hal itu ditandai dengan gelar Adipati Mangkunegara I yang diberikan kepadanya dan memiliki keraton bernama Pura Mangkunegaran. Hinga kini, masih ada istana peninggalan dari Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran di Solo. Begitulah, sejarah singkat dari kota dengan dua nama panggilan ini, Solo dan Surakarta. Kota yang menyimpan banyak cerita dengan keunikan budayanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *