Oleh : Aisyah Auramahsa

Sumber gambar : pinterest

Emotional Blackmails atau Pemerasan emosional adalah suatu bentuk manipulasi di mana orang-orang yang dekat dengan kita menyalahgunakan pengetahuan mereka tentang kerentanan kita untuk mengancam kita, baik secara langsung maupun tidak langsung. Jika mereka tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka akan menghukum kita dengan cara tertentu. Para pemeras emosional ini umumnya tahu bagaimana kamu menghargai hubungan tersebut dan tahu titik lemahmu. Umumnya, emotional blackmails terjadi pada hubungan terdekat seperti pasangan, kerabat maupun rekan.

Dalam beberapa kasus, manipulasi yang dilakukan pelaku seringkali membuat orang-orang tidak sadar bahwa mereka sedang menjadi korban emotional blackmail. Berikut ini beberapa situasi yang dapat menjadi tandanya:

  1. Pengorbanan dan kepatuhan hanya berjalan satu arah, di mana itu dilakukan oleh korban.
  2. Korban merasa terintimidasi atau terancam patuh terhadap perkataan maupun keinginan pelaku
  3. Korban meminta maaf untuk perbuatan yang tidak dilakukan, seperti kemarahan tanpa sebab, perilaku negatif, hingga hari buruk yang dialami oleh pelaku.
  4. Pelaku bersikeras untuk melakukan sesuatu sesuai cara mereka atau tidak sama sekali. Bahkan pelaku rela mengorbankan korban agar keinginannya terpenuhi.

Dr. Susan Forwards, melalui bukunya Emotional Blackmail: When the People in Your Life Use Fear, Obligation, and Guilt to Manipulate You (1997) menjabarkan tahapan dari Emotional Blackmail (EB).

Tahap pertama pemerasan emosional melibatkan permintaan. Pelaku EB mungkin menyatakan ini secara eksplisit: “Aku pikir kamu tidak usah berteman dengan si anu lagi.” Mereka mungkin juga memperhalus kalimatnya. Ketika kita menemui teman yang dimaksud, mereka cemberut dan berbicara dengan sinis (atau tidak sama sekali). Tentu, mereka bersikap demikian  seolah sebabnya adalah untuk mempedulikan kita. Akan tetapi, itu masih merupakan upaya untuk mengontrol pilihan kita.

Tahap kedua, Jika kita tidak ingin melakukan apa yang mereka inginkan, pelaku EB mungkin akan melakukan perlawanan. Misalnya mereka akan terus berusaha meyakinkan kita untuk melakukan apa yang mereka inginkan dengan kasar dan memarahi kita.

Tahap ketiga, resistance. Pelaku EB akan senang jika tidak ada perlawanan atau penolakan dari korban karena mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Oleh karena itu, strategi pemerasan emosional mereka berlaku hanya ketika korban berkata tidak pada permintaannya. Pada tahap inilah korban akan mulai merasa terpojokkan.

Tahap keempat, ancaman. Pemerasan emosional dapat melibatkan ancaman langsung atau tidak langsung:

  1. Ancaman langsung. “Jika kamu pergi dengan teman-temanmu malam ini, aku tidak akan berada di sini saat kamu kembali.”
  2. Ancaman tidak langsung. “Jika kamu tidak bisa tinggal bersamaku malam ini saat aku membutuhkanmu, mungkin orang lain akan melakukannya.

Apabila kamu merasa terjebak dalam kondisi EB, Kamu bisa menerapkan SOS sebelum melakukan permintaannya, adapun SOS adalah Stop, Observe, dan Strategy, yaitu tahapan yang dapat kamu lakukan untuk melihat apakah harus melakukan permintaanya atau tidak. Langkah lain yang dapat kamu tempuh apabila mengalami EB antara lain :

  1. Membangun komunikasi non-defensif yang kuat, yaitu komunikasi yang tidak menimbulkan konflik namun juga tidak serta-merta patuh pada dirinya. Beberapa contoh komunikasi non-defensif adalah: “Aku minta maaf jika kamu merasa kesal.” “Aku bisa mengerti kenapa kamu berfikir begitu.” “Mari kita bicara saat kamu sudah lebih tenang.”
  2. Membuat batasan secara jelas dan tegas, langkah ini dilakukan untuk menciptakan jarak dari ketegangan fisik maupun emosional yang diciptakan oleh pelaku EB. Batasan yang kamu buat pun bisa membantu kamu memahami dirimu sendiri, agar tidak tertipu oleh manipulasi dari hubungan terdekatmu, baik itu pasangan, kerabat, atau rekan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *