Oleh: Muhammad Farizka Sisma

Sumber gambar: majalah.tempo.co

Artidjo Alkostar, seorang hakim agung tersohor di Indonesia, ia merupakan mantan Hakim Agung Mahkamah Agung Republik Indonesia (MA RI) yang pensiun pada 2018 lalu. Seringkali mendapatkan perhatian publik, Artidjo banyak memberikan keputusan dan penyataan beda pendapat atau dissenting opinon-nya dalam berbagai kasus besar. Ia disebut juga sebagai hakim berdarah dingin ketika berhadapan dengan para koruptor karena seringkali menambah hukuman kepada terdakwa kasus korupsi yang mengajukan kasasi.

Artidjo dilahirkan di Situbondo pada 22 Mei 1948, ia menempuh pendidikan di Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Setelah itu Artidjo melanjutkan studinya di Fakultas Hukum Nortwestern University Law School Cichago yang lulus pada tahun 2002 dan melanjutkan studi program doktor ilmu hukum di Universitas Diponegoro (UNDIP) yang kemudian lulus pada tahun 2007.

Selepas lulus pendidikan sarjana hukum pada tahun 1976, ia menjadi dosen di FH UII Yogyakarta. Selain aktif mengajar, Artidjo juga bergiat di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogayakarta. Pada tahun 1981 hingga 1983 ia menjadi Wakil Direktur LBH Yogyakarta, baru kemudian ia diangkat menjadi Direktur hingga tahun 1989. Setelah itu Artidjo bekerja selama dua tahun di Human Right Watch divisi Asia di New York.

Sepulang dari New York, Artidjo mendirikan kantor hukum Artidjo Alkostar and Associates. Kantor hukum tersebut bertahan hingga tahun 2000, karena pada tahun yang sama ia ditunjuk oleh Menteri Kehakiman dan HAM Yusril Ihza Mahendra untuk menjadi Hakim Agung MA RI. Serta, pada tahun 2019 Artidjo ditunjuk untuk menjadi anggota Dewan Pengawas KPK.

Selama menjadi hakim agung, ia telah menyelesaikan sebanyak 19.708 berkas perkara di Mahkamah Agung. Dalam sebuah video wawancara yang berjudul Catatan Najwa Palu Hakim Artidjo, beliau menceritakan pengalamannya. Ketika menangani sebuah perkara, ia didatangi oleh seorang pengusaha yang bermaksud untuk menyuap Artidjo dan sang Hakim menganggap tindakan tersebut merendahkan dirinya. Upaya-upaya suap yang dilakukan kepadanya dilakukan berulang kali bahkan hingga keponakannya sempat didatangi seseorang juga dengan tujuan yang sama yakni untuk menyuap. Namun upaya-upaya suap tersebut tidak membuat dirinya tergoda, ia justru konsisten untuk selalu berintegritas dalam menangani perkara hingga pensiun pada tahun 2018.

Artidjo selama bertugas menjadi hakim agung tidak takut dalam menangani suatu perkara. Hal tersebut ditunjukkan salah satunya pada saat menangani perkara korupsi yayasan dengan terdakwa mantan presiden Soeharto. Salah satu hakim yang menangani perkara tersebut yakni Syafiuddin Kartasasmita tewas akibat penembakan, hal tersebut tidak membuat dirinya gentar dalam menangani kasus-kasus serupa.

Pada perkara yang sama Artidjo juga melakukan dissenting opinion disaat dua hakim lainnya menginginkan perkara tersebut dihentikan. Namun Artidjo bersikukuh untuk melanjutkan manangani perkara tersebut. Perbedaan pendapat yang dilakukan Artidjo tidak hanya sekali saja. Pada perkara korupsi Bank Bali dengan terdakwa Joko Tjandra, kedua hakim lainnya setuju untuk membebaskan terdakwa namun tidak dengan Artidjo. Ia bersikeras agar opini penolakannya masuk dalam putusan.

Selain dikenal pernyataan beda pendapat yang dilakukan Artidjo, ia juga dikenal galak kepada terdakwa kasus korupsi. Salah satunya saat ia memperberat vonis 4 tahun penjara menjadi 12 tahun kepada politikus Angelina Sondakh. Tindakan yang seringkali menambah hukuman kepada terdakwa kasus korupsi yang mengajukan kasasi bukan tanpa alasan. Artidjo menganggap korupsi itu kejahatan luar biasa karena mencuri harta negara dan memiskinkan rakyat, sehingga korupsi menjadi penyakit bagi tubuh negara.

Artidjo Alkostar dinyatakan meninggal dunia pada usia 72 tahun pada 28 Februari 2021. Kemudian pada 18 Agustus 2021 pemerintah menganugrahkan Bintang Mahaputra dan Tanda Jasa kepada beberapa orang yang dianggap berjasa dan berprestasi, salah satunya kepada Artidjo Alkostar. Kejujuran, kesederhanaan, dan tanggung jawab Artidjo dalam kehidupannya terutama saat ia bertugas menjadi hakim agung, tentu patut diapresiasi serta dijadikan contoh bagi para generasi penerus bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *