Ketersediaan air bersih memang menjadi kendala diberbagai daerah. Tak jarang ada daerah yang kesulitan air bersih bahkan ketika musim penghujan. Pemerintah melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) telah menawarkan solusi bagi ketersediaan air bersih. Namun, fakta yang dijumpai di lapangan kerap kali berbeda. Disamping itu banyak oknum yang memanfaatkan situasi semacam ini untuk mendulang rupiah dengan menjual air bersih dengan harga tidak wajar.

Untuk keperluan air minum saja masyarakat sering kali mengeluarkan uang untuk menikmatinya. Entah itu air minum dalam kemasan atau sejenisnya. Tanpa disadari bahwa pengeluaran masyarakat untuk air bersih terutama air minum sangatlah besar.

Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa sebenarnya alam telah menyediakan banyak pasokan air bersih untuk kelangsungan hidup manusia, salah satunya adalah air hujan. Ya, air hujan merupakan sumber air bersih yang bisa diharapkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Tidak hanya bersih, tapi menurut penelitian dari Monash University di Melbourne, Australia menegaskan bahwa air hujan aman untuk langsung dikonsumsi bahkan aman dari resiko penyakit.

Penelitian dilakukan dengan memantau 300 rumah yang menampung air hujan sebagai sumber air minum utama untuk dijadikan sampel. Mereka menyebut ini sebagai studi pertama di dunia yang muncul di tengah meningkatnya kritik terhadap air kemasan. Semua rumah diberi filter benchtop dimana pemilik rumah diberitahu bahwa filter tersebut akan menghilangkan organisme penyebab gastroenteritis/muntaber potensial dari air mereka, tetapi setengah dari perangkat yang dipasang di rumah tersebut tidak mengandung filter.

Pada tahap selanjutnya, setiap keluarga akan mencatat kondisi kesehatan mereka selama lebih dari setahun. Hasilnya, bahwa tingkat kasus gastro yang dicatat oleh kedua kelompok ini sangat mirip dan juga cocok dengan masyarakat yang lebih luas yang minum air keran layak minum. Ini menunjukan bahwa sesungguhnya air hujan itu layak minum.

“Orang yang minum air hujan yang tidak disaring, tidak menunjukkan peningkatan penyakit yang dapat diukur dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi air hujan yang disaring,” kata peneliti Karin Leder, Kepala Unit Penyakit Menular di Departemen Epidemiologi Universitas Monash, dalam sebuah pernyataan. “Perluasan penggunaan air hujan untuk banyak keperluan rumah tangga dapat dipertimbangkan dan di masa kekeringan saat ini, kami ingin mendorong orang untuk menggunakan air hujan sebagai sumber daya,” Tegasnya. Leder memperingatkan bahwa keluarga yang terlibat dalam penelitian ini adalah peminum air hujan rutin dan mungkin sudah membangun pertahanan terhadap kemungkinan infeksi.

Namun dengan catatan hasil penelitian ini bisa memiliki hasil yang berbeda-beda tergantung kondisi dari lingkungan. Seperti apabila dikawasan industri tentunya akan berbeda karena udara disekitar telah terpapar zat-zat kimia maupun radioaktif yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Apabila air hujan yang ditampung dengan wadah kotor pun juga tidak baik, apa lagi genangan air hujan.

Fakta ini menjelaskan bahwa masyarakat bisa menampung air hujan ditengah minimnya pemanfaatan air hujan sebagai sumber air alternatif demi keperluan air bersih mereka dengan tetap memperhatikan hal-hal yang membahayakan kesehatan. Berkaitan dengan hal tersebut, tentunya pemerintah juga harus berperan dalam melakukan penyuluhan terkait.* (Ghirindra Chandra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *